Rabu, 25 Januari 2012

tips membuat paspor part 2-selesai

Tips membuat Paspor 2-end
paspor
Nah, setelah membaca bagian pertama, lanjut ke yang kedua ini ya. Jum’at 26 Agustus setelah aplikasiku ditolak karena ada perbedaan nama, saya pun langsung mencoba mendatangi Kantor Kepala Desa ba’da Jum’atan. Saya kesana jam 13 lebih, dan kator telah sepi (maklum mau cuti bersama) dan yang stand by, hanya ibu-ibu yang bertanggungjawab kebersihan kantor. Ibu itupun berkata, sudah pada pulang, coba dari jam Sembilan pagi katanya (ya kali, saya nyampe rumah saja jam 11 lebih). Ibu itupun menyarankan saya mendatangi rumah Mang Ceceng (kebetulan masih kerabat dekat), ternyata yang bersangkutan tidak ada di tempat. Ada istrinya, dan menyarankan ke kantor saja sehabis libur Idul Fitri.
                Sepuluh hari kemudian, Senin tanggal 5 September saya datangi lagi Kantor Kepala Desa Dewasari. saya dibonceng naik motor dengan kakak berangkat jam Sembilan pagi. Alhamdulillah, sudah ada pegawai yang masuk, dan saya ceritakan keperluan saya. Bapak yang satu ini, akan mengelurkan surat keterangan perubahan nama untuk pengantar ke kecamatan. Ternyata, untuk mengetik satu lembar surat, perlu waktu yang lama, satu jam coba, padahal formatnya sudah ada dan tinggal ganti-ganti identitasnya saja (husnudzon, mungkin kompi nya lemot). Surat pun jadi, karena Pak Kades belum masuk, ditandatangan saja oleh yang ada disana. Saya pun membayar Rp. 5.000 untuk kinerja petugas ini, dan bukan masuk saku, ternyata di desa ini ada tempat penampungnya, sehingga jelas penerimaannya.
                Motor pun kembali melaju ke kantor Kecamatan Cijeungjing yang terletak tepat didepan Gapura Selamat datang gerbang Ciamis sebelah timur. Kantor masih sepi (pada masih cuti apa?), tapi loket pembuatan keperluan kependudukan (KTP,KK dll) yang terletak didepan, sudah ada satu ibu yang stand by. Dengan dandanan yang cukup menor si ibu bertanya ada keperluan apa. Setelah saya utarakan maksud saya, dan saya serahkan Kartu Keluarga yang namanya berbeda itu dan pengantar dari desa. Ternyata, pengantar dari desa tidak terpakai dan malah dikembalikan lagi ke saya. Jadi, patokan jika ingin mengubah nama, serahkan saja kopian akta kelahiran, yang memang dokumen resmi dan mahal membuatnya.
                Cukup cepat ibu ini mengerjakannya, mungkin sepuluh menitan, kartu Keluarga baru pun sudah ditangan dan saya bayar Rp. 8.000 (sudah termasuk sumbangan PMI seribu). saya pun berterimkasih pada ibu itu dan langsung berangkat ke Ciawi.
                Masih dengan menggunakan motor, dengan kecepatan sedang terus melaju sampai menemui jembatan laying Rajapolah, dari sinilah pertemuan jalur dari cihaurbeuti dan tasik Kota. Karena sedang masa arus balik, alhasil macet parah dari jalan ini menuju Ciawi. Dijalan, terlihat penjual yang menawar-nawari jualannya pada para pemudik. Dengan cekatan, selap selip dan susuruduk ke pinggir jalan yang rinjul, Alhamdulillah sampai juga di kantor imigrasi jam sebelas lebih sepuluh menit. Penutupan penerimaan aplikasi tutup jam dua belas, masih sempat.
                Aplikasi pun saya susun dengan rapi dan berurutan, saya serahkan ke petugas di loket. Aku pun diminta menunggu, beberapa menit kemudian petugas memanggil dan meminta dokumen asli untuk kepastian. Setelah semua dokumen cocok, petugas menyerahkan nomor antrian ke 8 dan selanjutnya ke loket pembayaran Rp. 255.000
                setelah bayar, menunggu dipanggil wawancara, deg-degan takut ditanya macam-macam dan hawatir aplikasinya ditolak lagi. Saya pun dipanggil, dan diminta berpose untuk pengambilan foto di paspor, karena saya memakai kaos, petugas meminta saya pakai batik yang telah tersedia (berbada dengan aini, yang malah di nye nye nye nye dan balik lagi untuk ganti kostum). Pemotretan selesai dan langsung diminta untuk melihat hasilnya, jika kurang ok dapat diulangi kok. Setelah itu, pengambilan sidik jari, hi tech yang ini, tinggal temple-tempelkan ke alatnya.
                Wawancara seputar pertanyaan yang di formulir yang saya isikan sebelumnya. kalo bener, si pewawancara bakal nyeklis. Pas bagian kenapa ingin membuat paspor, saya jawab saja sekenanya, mau exchange ke jepang. untung tuh petugas ga nanya LoA universitasnya, kalo ia minta, matilah awak,… he2
                Sudah deh, langsung pulang dan datang lagi seminggu setelahnya, untuk ngambil paspor baru. bisa diwakilkan juga, asal pake surat kuasa, Alhamdulillah ya, cepet banget bikin paspor di lembur, tinggal ke luar negerinya aja, tiket administrasinya, sudah dapat. Go fight, ABROAD 2013,… Amin

Sabtu, 17 September 2011

Tips Membuat Paspor -part 1-

Memiliki paspor, sudah menjadi rencanaku dari jauh-jauh hari. Meski tidak tau mau ke luar negeri kapan, tapi setidaknya bolehlah kita punya dulu tiket ini untuk melihat dunia –adaptasi rhenal kasali- dalam notes Deliabilda Luvina. Membuat paspor, ini juga tidak lepas dari “kepanasan”  kawan dekat saya. Sebut saja, Yogi Achmad Fajar yang telah melanglang buana ke tanah gingseng. Kang Irpan Waliana yang riset di Meiji Pharmaceutical Univ, Japan. M. Aini yang hobi bolak-balik Singapur. Atau Han han Dianhar, yang berencana nonton di Singapore. Ah, sungguh keinginan itu makin menggebu, apalagi banyak kawan dan teman saya yang terbang ke luar negeri, Mila, Nuy, dan Hestin dari London, Mayang dari Eropa, teh Deti dari Lindau Jerman, juga ustadz tetangga saya, Kang Cucu Surahman yang studi di Leiden, dan pertukaran di Ausie. Setidaknya, kisah mereka dapat saya serap ilmunya, dan semakin memecut diri untuk dapat terbang ke luar negeri, Study Abroad, Around the World.

Panjang juga ya latar belakangnya. Selanjutnya, saya memilih membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas II Tasikmalaya yang beralamat di Jalan Kusnadi Belanegara No. 37 Ciawi, persis di depan alun-alunnya. Saya memilih tempat ini karena niatnya sambil liburan juga, dan dari sumber lain yang katanya, bila membuat paspor di Kota Bandung, harus dalam 3 hari yang berbeda-beda (1. aplikasi, 2. wawancara, 3. Pengambilan), danmengharuskan ada satu hari yang nomor 2 itu untuk wawancara, pengambilan sidik jari, foto yang mengharuskan stand by seharian. Berhubung saya tidak bisa untuk stand by, melihat jadwal kuliah padat, dan dosen semester ini yang strikk bagaikan Hogwarts Zaman Dolores Umble.

Hari Pertama
Akhir kuliah tanggal 24 Agustus, tanggal 26 Kemudian, yaitu hari Jumat saya berangkat dari Bandung sehabis makan sahur dan shalat subuh. Saya berjalan menaiki perbukitan jalan aspal tanjakan menuju jalan Tamansari dari kediaman saya di KBS (bukan stasiun TV Korea, tapi Kebon Bibit Selatan). Setelah sampai di jalan raya, saya menggesek uang untuk membuat paspor di Bank BNI (iklan dulu, sponsor he2) Sebelah Rektorat ITB. Sayapun kemudian duduk termenung menunggu angkot Caheum Ledeng di depan Kafe PERSIB ( Graha Panjalu maung bandung, dengan menu andalannya, soup maung).

Tiba-tiba, ternyata ada mobil elf-nya langsung lewat jalan itu, katanya menuju Ciamis, saya pun naik elf itu dengan ongkos Rp. 35.000,- ternyata saya diturunkan di Jalan belokan Pamoyanan yang menuju Suryalaya. Kemudian saya beralih kendaraan naik angdes Pageurageung- Ciawi dan berhenti di belokan yang menuju pasar Ciawi dengan ongkos Rp. 3.000,-. Turun dari sana, dilanjutkan jalan kaki menuju Kantor Imigrasi, lokasinya lumayan jauh-jauh-dekat dari tempat saya berhenti tadi. Beberapa tukang ojek pun menghampiri saya dan menawar-nawari untuk menaikinya. Saya pun mengacuhkannya, karena mereka tau, saya pendatang bagi mereka, dan akan menjadi sasaran empuk untuk member tariff yang mahal. Saya mencoba meng-SMS adik kelas saya Devania Nur Sakinah (ya kali bisa ngasih tumpangan gratis) tapi yang bersangkutan nomornya saya miskol tidak aktif. Alhasil, saya ngesotlah menuju kantor imigrasi.

Kira-kira satu kilometeran jaraknya, akhirnya sampai juga, pukul setengah Sembilan, masih sepi (apa lagi bulan puasa, tapi ga bisa jadi alas an juga dong). Terlihat beberapa bapak-bapak bersiap di depan pos satpam untuk mencari mangsa (calo ni, satpamnya bukannya ngamanin, malah dibiarin coba, ckckckck parah). Saya pun masuk ruangan dan berjejer kursi yang cukup bagus, tidak seperti depan prodi saya yang ada jebakan Batmannya (bisa-bisa jatuh). Di ruang tunggu ini, terdapat meja panjang (Counter A) dan loket pembayaran (Counter B) yang menghadap langsung ke aplikan. sebelah kirinya, ada tempat pengambilan foto dan sidik jari serta ruang wawancara (Counter C). Ruangan ini berdinding cermin normal, sengaja untuk aplikan yang akan bergaya, sebelum pengambilan foto. Di ruangan ini juga dilengkapi televisi layar datar yang cukup besar, rak Koran lokal terbaru dan poster tarif pembiayaan administrasi keimigrasian yang sangat lebar (bagus, untuk menghindari manipulasi dari oknum petugas).

Saya pun duduk, dan masih bingung melihat-lihat (rajin banget, terdepan, petugas aja belum pada datang, he2). Saya pun bertanya pada bapak-bapak yang lumayan sudah berumur, dan menanyakan konternya buka jam berapa. Dia pun menjawab sebentar lagi (padahal, dari tempat parkir, terpampang jam bukanya dari 7.30). Dia pun bertanya balik, apa saya sudah mengisi lembar aplikasi. Saya jawab belum. Kemudian dia mengarahkan saya untuk membeli map dan formulir di Koperasi imigrasi. Disana, ada tempat mencopy dokumen aplikan, map khusus berikut lembar formulir bercap CUMA-CUMA, dan formulir pernyataan dibandrol Rp. 6.000,- (masih murah la ya di banding di Bandung).

Formulirpun saya isi, dan harus memakai pulpen berwarna hitam dan huruf Kapital. Setelah form diisi lengkap semua (isiannya sama persis bila kita mengajukan permohonan secara online), serahkan pada petugas penerimaan berkas di Konter A disertai lampiran :
1.      Fotokopi KTP (di kertas A4, jangan dipotong, berikut belakangnya di satu halamankan)
2.      Fotokopi akta kelahiran
3.      Fotokopi Kartu Keluarga
4.      Fotokopi Ijazah (sertakan pula semua aslinya untuk di cross cek keasliannya)
Itu persyaratan bila status kita mahasiswa dan belum menikah. Khusus pegawai, harus ada rekomendasi atasan, dan yang menikah sertakan buku nikahnya. Selanjutnya petugas memeriksa kesamaan nama saya, dan nama orang tua, alamat, tanggal lahir dan lainnya.

Petugaspun memanggil saya, dan ditemukan perbedaan nama di kartu keluarga, meskipun beda satu huruf yang tidak terlalu signifikan, petugas menolak aplikasi paspor saya dan meminta memperbaiki dulu nama yang berbeda tersebut. Pelajaran hari ini, harus konsisten dalam penulisan identitas apapun dalam dokumen resmi. Saya pun pulang dari kantor imigrasi ini dengan kecewa, hiks hiks,… Susah ya bikin paspor,…

Selasa, 16 Agustus 2011

PEMANFAATAN RADIOKIMIA : PERAN RADIASI DALAM PENGOLAHAN IKAN

Oleh : Ihsan Budi Rachman
Kimia FMIPA ITB
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah
1.1.1 Latar belakang
Kimia inti, dewasa ini sudah banyak sekali penggunaannya. Salah satunya peranannya yang penting dalam kepanganan dunia. Terdapat badan di bawah organisasi United Nation atau dalam Bahasa Indonesianya Perserikatan Bangsa – bangsa (PBB) melalui badan Food and Agriculture Organization (FAO), International Atomic Energy Agency (IAEA) dan World Health Organization (WHO) membentuk inisiasi kerjasama International Consultative Group on Food Irradiation (ICGFI) atau yang dikenal dengan sebutan kimia nuklir merupakan salah satu bidang kajian dalam ilmu kimia yang bahasan utamnanya menyangkut sifat-sifat suatu nukleotida, struktur, energetika, isotop, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan inti suatu atom. Pemanfaatan ilmu ini telah merambah ke berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, industri dan riset kebumian, energi, pangan dan pertanian, ilmu fisika dan kimia, serta kelautan dan hidrologi, dan lain-lain.
Pangan yang menjadi kebutuhan utama saat ini di dunia, memiliki peranan penting sekali dalam tatanan kehidupan. Pertumbuhan penduduk yang mengikuti hukum Malthus deret ukur yaitu tiap tahunnya mengikuti kelipatannya 1, 2, 4, 8, 16,…. Sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung 1, 2, 3, 4, 5, … dari hukum tersebut, dapat dilihat bahwa suatu saat akan terjadi kelangkaan pangan yang cukup pelik di dunia karena ketidaksingkronan jumlah peningk
atan pangan dan jumlah penduduk, sehingga perlu ada jalan pemecahan masalah tersebut, salah satunya dengan pengawetan makanan melalui radiasi.

1.1.2 Rumusan masalah
Melihat latar belakang itu, maka rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana aplikasi radiokimia dalam pengawetan makanan sehingga memberikan manfaat bidang kehidupan?

1.2 Ruang Lingkup Kajian
Untuk menjawab rumusan masalah di atas, akan dikaji hal-hal berikut :
1. Pangan.
2. Radiasi.
3. Ikan.
4. Peran radiasi dalam pangan, khususnya ikan.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan radiokimia dalam pengawetan ikan yang meliputi definisi, metoda, proses, kegunaan, aplikasi, keuntungan yang akan diperoleh dari pengawetan ikan ini.

1.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
1.4.1 Metode
Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif analitis karena penelitian ini bertujuan mendeskripsikan data yang diperoleh dari berbagai rujukan kemudian dianalisis secara ringkas dan komprehensif. Dengan menerapkan metode pendekatan empiris dan rasional.
1.4.2 Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah :
1. Studi pustaka.
2. Metode penentuan informan.

1.5 Sistematika Penulisan
Makalah ini dibagi menjadi empat bab. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang dan rumusan masalah, ruang lingkup kajian, tujuan penulisan, metode dan teknik pengumpulan data, serta berisi tentang sistematika penulisan. Pada bab II, diungkapkan tentang tinjauan pustaka yang berisi pangan, radiasi, ikan, dan pengawetan. Bab III, berisi saintifik metoda, fasilitas pengawetan, permasalahan iradiasi, pengemasan, ekonomi irradiasi pangan, pendeteksian ikan terradiasi, dan manfaat. Serta bab IV yang isinya kesimpulan atas masalah dan sarannya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pangan
Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai bahan makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman (UU Pangan No. 7 tahun 1996).
Pangan terbagi menjadi dua, pangan nabati dan pangan hewani. Pangan nabati adalah komoditas pangan yang berasal dari tanaman, misalnya beras, jagung, sayur, buah dan lain sebagainya. Sedangkan pangan hewani adalah komoditas pangan yang berasal dari hewan, misalnya telur, daging, ikan dan sebagainya.
Pangan mengandung zat gizi yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Fungsinya yang pertama, memberi energi. Zat gizi yang tergolong ini adalah karbohidrat, lemak dan protein, ketiga zat gizi itu terdapat dalam jumlah paling banyak dalam bahan pangan. Dalam fungsi sebagai zat pemberi energi, ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembakar. Kedua, pertumbuhan dan pemelihara jaringan tubuh. Zat gizi ini yaitu protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru, memelihara, dan mengganti sel-sel yang rusak. Dalam fungsi ini ketiga zat gizi tersebut dinamakan zat pembangun. Ketiga, mengatur metabolisme tubuh. Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur metabolisme tubuh. Protein mengatur keseimbangan air dalam sel, bertindak sebagai buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai penangkal organisme yang bersifat infektif dan bahan asing yang masuk ke dalam tubuh. Mineral dan vitamin diperlukan sebagai pengatur dalam proses-proses oksidasi, fungsi normal syaraf dan otot serta banyak proses lainnya termasuk proses menua. Air diperlukan untuk melarutkan bahan-bahan dalam tubuh, seperti di dalam darah, cairan pencernaan, jaringan, dan mengatur suhu tubuh, peredaran darah, pembuangan sisa-sisa dll. Dalam hal ini protein, mineral, air, dan vitamin dinamakan zat pengatur.

2.2 Radiasi
Pengertian Radiasi dalam fisika, mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Beberapa radiasi dapat berbahaya.
Radiasi ada dua macam. Yang pertama radiasi ionisasi. Radiasi ini memiliki energi yang cukup untuk mengionisasi partikel. Secara umum, hal ini melibatkan sebuah elektron yang 'terlempar' dari cangkang atom elektron, yang akan memberikan muatan positif. Hal ini sering mengganggu dalam sistem biologi, dan dapat menyebabkan mutasi dan kanker. Jenis radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif, peluruhan radioaktif dan sampah.
Tiga jenis utama radiasi ionisasi menurut Ernest Rutherford melalui percobaannya :
1. Radiasi Alpha
2. Radiasi Beta
3. Radiasi Gamma
Yang kedua, radiasi non-ionisasi. Radiasi non ionisasi mengacu pada jenis radiasi yang tidak membawa energi yang cukup per foton untuk mengionisasi atom atau molekul. Ini terutama mengacu pada bentuk energi yang lebih rendah dari radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, gelombang mikro, radiasi teraherzt, cahaya infra merah, dan cahaya tampak). Membentuk ion berenergi ketika melewati materi, radiasi elektromagnetik memiliki energi yang cukup hanya untuk mengubah rotasi, getaran atau elektronik konfigurasi valensi molekul dan atom. Namun demikian terdapat efek biologis yang berbeda untuk jenis radiasi non-ionisasi.
1. Radiasi Neutron
2. Radiasi elektromagnetik
3. Radiasi cahaya
4. Radiasi termal
Penggunaan radiasi, dalam Kedokteran adiasi dan zat radioaktif digunakan untuk diagnosa, pengobatan dan penelitian. Dalam Komunikasi, Semua sitem komunikasi modern menggunakan bentuk radiasi elektromagnetik. Dalam Iptek, Para peneliti menggunakan atom radioaktif untuk menentukan umur suatu benda berusia lama.


2.3 Ikan
Ikan terdiri dari ikan air tawar dan ikan laut. Keduanya adalah makanan sumber protein yang sangat penting untuk pertumbuhan tubuh. Ikan mengandung 18 persen protein terdiri dari asam-asam amino esensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 1-20 persen lemak yang mudah dicerna serta langsung dapat digunakan oleh jaringan tubuh. Kandungan lemaknya sebagian besar adalah asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan dapat menurunkan kolesterol darah.
Macam – macam ikan mengandung jumlah lemak yang bervariasi, ada yang lebih berlemak dan ada yang kurang berlemak. Lemak merupakan salah satu unsur besar dalam ikan, unsur lainnya adalah protein, vitamin, dan mineral. Orang telah menyadari makan ikan dari laut dan air tawar lebih baik nilai gizinya, namun hanya orang di pesisir yang gemar makan ikan laut.
Orang di daerah pedalaman jarang mengkonsumsi ikan laut, mungkin karena kesegarannya kurang terjamin sehingga bisa mengubah rasa ikan tersebut. Di daerah pedalaman yang ada sungai, empang, dan danau tentu banyak ikan air tawar yang tidak kalah nilai proteinnya dan juga bermanfaat untuk pertumbuhan tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan, ikan mengandung protein yang berkualitas tinggi. Protein dalam ikan tersusun dari asam-asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan. Selain itu protein ikan amat mudah dicerna dan diabsorpsi. Selain ikan memang daging unggas, telur, susu, merupakan bahan makanan sumber protein yang berkualitas tinggi. Asam-asam amino yang dikandungnya cukup banyak dan bervariasi sesuai yang dibutuhkan tubuh. Para ahli menemukan, komposisi asam-asam amino dalam bahan makanan hewani sesuai dengan komposisi jaringan di dalam tubuh manusia. Oleh karena ada kesamaan ini maka protein dari ikan, daging, susu, unggas, dan telur mempunyai nilai gizi yang tinggi.
Ikan sering disebut sebagai makanan untuk kecerdasan. Ikan sebagai makanan sumber protein yang tinggi. Kalau dalam menu sehari-hari kita menghidangkan ikan, maka kita memberikan sumbangan yang tinggi pada jaringan tubuh kita. Absorpsi protein ikan lebih tinggi dibandingkan daging sapi, ayam, dan lain-lain. Karena, daging ikan mempunyai serat-serat protein lebih pendek daripada serat-serat protein daging sapi atau ayam. Oleh karena itu ikan dan hasil produknya banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan pencernaan sebab mudah dicerna.
Vitamin yang ada dalam ikan juga bermacam-macam, yaitu vitamin A, D, Thiamin, Riboflavin, dan Niacin. Ikan juga mengandung mineral yang kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang ada dalam susu seperti kalsium, phosphor, akan lebih tinggi dibandingkan dengan susu. Ada dua kelompok vitamin dalam ikan yaitu larut dalam air dan larut minyak. Yang larut dalam minyak yaitu vitamin A dan D, yaitu dalam minyak ikan. Minyak ikan ini banyak dimanfaatkan pemberiannya pada anak-anak. Vitamin yang larut dalam air dan terdapat dalam ikan adalah 4 macam vitamin tergolong dalam famili vitamin B, yaitu B6, B12, Biotin, dan Niacin. Mineral dalam ikan Ikan mengandung banyak mineral termasuk magnesium, phosphor, iodium, fluor, zat besi, copper, zinc, dan selenium.
Ikan dari laut banyak mengandung iodium, demikian juga hasil laut lainnya. Iodium sangat penting untuk mencegah penyakit gondok. Orang-orang di pegunungan yang banyak menderita sakit gondok, antara lain disebabkan jarang makan ikan laut. Kekurangan iodium yang dialami ibu sejak mengandung bayinya akan mengakibatkan bayi yang lahir kretin, dan juga bisa terjadi mental retarded atau IQ-nya rendah. Oleh karena itu pemerintah sekarang membuat peraturan menambahkan iodium pada setiap garam dapur yang dijual di pasaran.
Selenium merupakan mineral yang terdapat dalam ikan dan dalam tubuh kita bekerjasama dengan vitamin E sebagai zat antioksidan untuk memperlambat oksidasi asam-asam lemak tak jenuh. Selenium bersama vitamin E mempertahankan elastisitas jaringan dan bila selenium kurang di dalam tubuh maka akan terjadi premature aging, yaitu suatu keadaan di mana seseorang tampak lebih tua dari umurnya. Oleh karena itu makanlah ikan terutama ikan laut banyak-banyak supaya premature aging bisa dicegah dan orang akan merasa lebih muda dari umurnya serta lebih aktif.
Jadi, ditinjau dari aspek gizi, ikan merupakan bahan pangan sumber protein yang cukup potensial dan dapat dibandingkan atau disejajarkan dengan bahan pangan hewani lainnya seperti daging sapi, unggas, telur dan susu. Ikan mempunyai kandungan protein sekitar 15-24 % tergantung jenis ikan dan mempunyai daya cerna yang relatif tinggi yaitu sekitar 95%. Kandungan gizi penting lainnya pada ikan yang sangat berperanan dalam menjaga kesehatan tubuh adalah “asam lemak omega 3”. Asam lemak omega 3 ini khususnya banyak terdapat pada ikan laut, misalnya lemuru. Disamping itu ikan juga merupakan sumber zat gizi mineral yang sangat penting, yaitu Ca, P dan Fe.

2.4 Pengawetan
Pengawetan adalah salah satu cara untuk memperpanjang usia kebermanfaatan suatu pangan yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Secara garis besar pengawetan dapat dibagi dalam 3 golongan yaitu cara alami, biologi, dan kimiawi. Proses pengawetan secara alami meliputi pemanasan dan pendinginan.
Proses pengawetan secara biologis misalnya dengan peragian (fermentasi), dan penggunaan Enzim. Fermentasi merupakan proses perubahan karbohidrat menjadi alkohol. Zat-zat yang bekerja pada proses ini ialah enzim yang dibuat oleh sel-sel ragi. Lamanya proses peragian tergantung dari bahan yang akan diragikan. Enzim adalah suatu katalisator biologis yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan dapat membantu mempercepat bermacam-macam reaksi biokimia. Enzim yang terdapat dalam makanan dapat berasal dari bahan mentahnya atau mikroorganisme yang terdapat pada makanan tersebut. Bahan makanan seperti daging, ikan susu, buah-buahan dan biji-bijian mengandung enzim tertentu secara normal ikut aktif bekerja di dalam bahan tersebut. Enzim dapat menyebabkan perubahan dalam bahan pangan. Perubahan itu dapat menguntungkan ini dapat dikembangkan semaksimal mungkin, tetapi yang merugikan harus dicegah. Perubahan yang terjadi dapat berupa rasa, warna, bentuk, kalori, dan sifat-sifat lainnya. Beberapa enzim yang penting dalam pengolahan daging adalah bromelin dari nenas dan papain dari getah buah atau daun pepaya.
Pengawetan secara kimia menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gula pasir, garam dapur, nitrat, nitrit, natrium benzoat, asam propionat, asam sitrat, garam sulfat, dan lain-lain. Proses pengasapan juga termasuk cara kimia sebab bahan-bahan kimia dalam asap dimasukkan ke dalam makanan yang diawetkan. Apabila jumlah pemakainannya tepat, pengawetan dengan bahan-bahan kimia dalam makanan sangat praktis karena dapat menghambat berkembangbiakan mikroorganisme seperti jamur atau kapang, bakteri, dan ragi. Ada dua cara proses bebas kuman, yaitu sterilisasi dan pasteurisasi. Sterilisasi adalah proses bebas kuman, virus, spora dan jamur. Keadaan steril ini dapat dicapai dengan cara alami maupun kimiawi. Secara alami dapat dilakukan dengan memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 100 oC selama 15 menit, untuk mematikan kuman dan virus. sedangkan spora dan jamur disterilkan pada suhu 120 oC. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan antiseptik dan desinfektan.



BAB III
PERAN RADIOKIMIA DALAM PENGELOLAAN IKAN
3.1 Saintifik Metode
Jenis radiasi yang digunakan dalam pengolahan pangan, khususnya ikan terbatas untuk radiasi dari sinar gamma energi tinggi, sinar-X dan elektron dipercepat. Radiasi ini juga disebut sebagai radiasi ionisasi karena energi mereka cukup tinggi untuk mengeluarkan elektron dari atom dan molekul dan mengkonversikannya ke partikel bermuatan elektrik yang disebut ion. Sinar gamma dan sinar-X, seperti radiowaves, microwave, sinar ultraviolet dan cahaya tampak, merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik dan terjadi di panjang gelombang pendek, daerah spektrum energi tinggi dan memiliki daya tembus cukup besar. Sinar ini memiliki sifat dan efek yang sama pada bahan, sumber pancaran menjadi perbedaan utama antara sinar gamma dan sinar-X. Sinar-X energinya dihasilkan berbagai oleh mesin. sinar gamma dengan energi tertentu berasal dari disintegrasi spontan radionuklida.
Fenomena Radionuklida terjadi secara alami dan buatan manusia, juga disebut
isotop radioaktif atau radioisotop, radiasi dipancarkan karena secara spontan membentuk kembali ke keadaan stabil. Waktu yang diambil oleh radionuklida meluruh setengahnya dari awal disebut radioaktivitas dibanding sekarang dikenal sebagai waktu paruhnya, dan spesifik untuk setiap radionuklida dari suatu elemen tertentu. The Becquerel (Bq) adalah radioaktivitas dan unit sama dengan satu disintegrasi per detik. Hanya sumber radiasi tertentu dapat digunakan dalam irradiasi pangan. radionuklida kobalt-60 atau Cesium-137. Mesin sinar-X memiliki energi maksimum lima juta elektron volt (MeV) (elektron volt adalah jumlah energi yang didapat oleh elektron saat dipercepat oleh potensial satu volt dalam ruang hampa); atau electron accelerator yang memiliki energi maksimum 10 MeV.
Energi dari sumber-sumber radiasi cukup rendah untuk mendorong radioaktivitas dalam bahan, termasuk pangan.
Radionuklida yang digunakan harus eksklusif untuk iradiasi pangan dengan sinar gamma adalah kobalt-60. Sinar ini diproduksi oleh penembakan neutron dalam reaktor nuklir dari logam kobalt-59, kemudian secara ganda dienkapsulasi di “pencils” stainless steel untuk mencegah kebocoran apapun selama penggunaannya dalam Iradiator. Kobalt-60 memiliki paruh 5,3 tahun, sinar gamma yang dihasilkan sangat tajam dan dapat digunakan untuk disimpan di kotak yang penuh dengan makanan segar atau beku. Cessium-137 adalah satu-satunya radionuklida pemancar gamma yang cocok untuk industri pengolahan bahan. Radiasi ini dapat diperoleh dengan pendaurulangan, atau penggunaan kembali elemen bakar nuklir dan telah mencapai waktu paruh 30 tahun. Namun, tidak ada pasokan komersial dalam jumlah besar cesium-137. Kobalt-60 kemudian menjadi pilihan alternatif untuk sumber radiasi gamma. Lebih dari 80% dari kobalt-60 yang tersedia di pasar dunia diproduksi di Kanada. produsen lainnya adalah Rusia, China, India dan Afrika Selatan.
Hamburan energi elektron tinggi dapat dihasilkan dari mesin dan mampu mempercepat elektron mendekati kecepatan cahaya melalui suatu akselerator linear. Karena elektron tidak dapat menembus jauh ke dalam makanan, dibandingkan dengan radiasi gamma atau X-ray, radiasi itu dapat digunakan hanya untuk penanganan pada pangan yang dikemas tipis dan bebas tanpa pengemas. Sinar-X dari berbagai energi diproduksi saat seberkas partikel elektron dipercepat membombardir target logam. Meskipun sinar-X memiliki kemampuan penetrasi ke dalam makanan, efisiensi konversi dari elektron sinar-X umumnya kurang dari 10%, dan hal ini menghambat penggunaan jenis sumber radiasi sejauh ini.
Dosis radiasi adalah jumlah energi radiasi yang diserap oleh makanan saat melewati bidang radiasi selama pengolahan. Hal ini diukur menggunakan unit yang disebut Gray (Gy). Dalam pekerjaan awal unit adalah (rad 1 Gy = 100 rad; 1 kGy = 1000 Gy). Internasional kesehatan dan keselamatan berwenang telah mendukung keselamatan iradiasi untuk semua makanan sampai dosis tingkat 10.000 Gy (10 kGy). Baru-baru ini sebuah evaluasi ahli internasional studi kelompok ditunjuk oleh FAO, IAEA dan WHO menunjukkan makanan yang diperlakukan sesuai dengan praktik manufaktur yang baik
pada setiap dosis di atas 10 kGy juga aman untuk dikonsumsi, membuat paralel iradiasi untuk memanaskan pengelolaan pangan. Dalam hal hubungan energi, satu gray sama dengan satu joule energi yang diserap per kilogram makanan yang diiradiasi. Dosis maksimum 10 kGy direkomendasikan oleh Standar Umum untuk Makanan Iradiasi Codex adalah setara dengan energi panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 2,4 OC. Iradiasi sering disebut sebagai proses pasteurization cold karena dapat mencapai objektif sama dengan pasteurisasi termal dari pangan cair, untuk Misalnya susu, tanpa adanya peningkatan substansial dalam suhu produk.
3.2 Fasilitas Pengawetan
Fasilitas Industri iradiasi pangan harus memiliki lisensi, diatur dan diperiksa oleh keamanan nasional dan otoritas kesehatan radiologi, banyak aturan dari yang berwenang atas dasar standar dan kode praktik bersama-sama didirikan oleh FAO, IAEA dan WHO. Sarana yang umum dari semua Fasilitas iradiasi komersil adalah ruang iradiasi dan sistem untuk mengangkut makanan ke dalam dan keluar dari ruangan. struktur utama dibanding bangunan industri lainnya adalah perisai beton tebal yang mengelilingi ruang iradiasi, yang menjamin bahwa radiasi pengion tidak ke luar kamar radiasi.
Dalam Iradiator gamma, sumber radionuklida terus-menerus memancarkan radiasi dan apabila tidak digunakan untuk menangani pengawetan pangan harus disimpan dalam kolam air (biasanya kedalaman 6 meter). Dikenal sebagai salah satu perisai terbaik terhadap radiasi energi, air menyerap energi radiasi dan melindungi pekerja dari paparan jika mereka harus memasuki ruangan. Sedangkan untuk iradiator gamma, mesin memproduksi energi elektron tinggi beroperasi pada listrik dan dapat dimatikan. Sistem transpor yang digunakan dalam iradiasi pangan besar. Fasilitas ini mirip dengan yang digunakan untuk sterilisasi produk medis dan dapat berupa konveyor atau sistem uap. Dalam gamma Iradiator, ukuran wadah tempat pangan dipindahkan melalui ruang iradiasi dapat bervariasi dan palet sampai dengan 1 m3 dapat digunakan. Di sisi lain, dengan mesin, sebagian atau ketebalan dari suatu produk yang dapat ditangani adalah jauh lebih sedikit dan karenanya ada perbedaan mendasar desain antara dua jenis Iradiator.
Selama 30 tahun terakhir, hukum dan peraturan telah diundangkan untuk mengatur operasi di industri iradiator digunakan untuk memproses produk non-makanan, seperti persediaan obat-obatan. sekitar 170 iradiator tersebut beroperasi di seluruh dunia. Rencana, yang harus disetujui oleh pemerintah berwenang sebelum konstruksi, diharuskan inspeksi secara reguler, audit, dan review lainnya untuk memastikan bahwa pabrik benar-benar aman dan dioperasikan. Pada tingkat internasional, pedoman praktek iradiasi baik untuk sejumlah makanan telah dikeluarkan oleh International Consultative Group on Food Iradiasi (ICGFI). Mereka mencakup semua aspek perawatan, penanganan, dan distribusi. Pedoman ini memberikan dasar yang baik untuk menyusun protokol rinci diperlukan untuk melaksanakan iradiasi pada skala komersial. Pedoman ini menekankan bahwa, sebagaimana semua teknologi makanan, sistem pengendalian mutu yang efektif harus dipasang dan memadai dipantau dengan pengawasan ketat pada Fasilitas iradiasi. pangan harus ditangani, disimpan, dan diangkut sesuai dengan praktek-praktek manufaktur yang baik sebelum, selama, dan sesudah iradiasi. Hanya bahan pangan yang berkualitas tinggi yang harus diterima untuk iradiasi. Manajemen juga harus menjadi perhatian, dengan menyelenggarakan pelatihan untuk operator Iradiator, manajer pengembangan, dan supervisor pada pendidikan yang tepat, dengan penekanan pada pelayanan yang baik, dosimetri, penyimpanan catatan, dan identifikasi banyak, dan bagi para pemegang kebijakan dengan melakukan prosedur inspeksi yang tepat dan diperlukan untuk pengolahan makanan iradiasi serta perdagangan dalam pangan iradiasi. banyak kesalahpahaman bahwa keberadaan iradiasi gamma. Fasilitas ini akan menyebabkan akumulasi tumbuh radioaktif limbah material. Pada iradiator gamma, sumber radionuklida, biasanya kobalt-60 atau caesium-137, digunakan sebagai sumber radiasi energi. Peluruhan unsur ini dari waktu ke waktu untuk nonradioactive. Unsur-unsur tersebut kemudian dikembalikan dalam wadah pengiriman ke pemasok yang memiliki fasilitas untuk mengaktifkan kembali radioaktif dalam reaktor nuklir atau menyimpannya.


3.3 Permasalahan Iradiasi
Aspek Gizi, masalah gizi pada makanan yang diiradiasi ialah kekhawatiran akan adanya perubahan kimia yang mengakibatkan penurunan nilai gizi makanan, yang menyangkut perubahan komposisi protein, vitamin dan lain-lain (Glubrecht, 1987). Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa makanan yang diiradiasi sampai dosis 1 kGy tidak menimbulkan perubahan yang nyata, sedangkan pada dosis 1 – 10 kGy bila udara pada saat iradiasi dan penyimpanan tidak dihilangkan akan mengakibatkan penurunan beberapa jenis vitamin. Untuk itu telah dilakukan berbagai penelitian untuk mengetahui kondisi iradiasi yang tepat, sehingga pada prakteknya tidak akan terjadi perubahan nilai gizi dalam bahan pangan, terutama makronutrisinya sepperti karbohidrat, lemak dan protein (Purwanto dan Maha, 1993).
Aspek Mikrobiologi, dalam makanan iradiasi, masalah mikrobiologi yang mungkin timbul adalah sifat resistensi atau efek mutagenik dan peningkatan patogenitas mikroba (WHO, 1991 dalam Simatupang, 1983). Daya tahan berbagai jenis mikroorganisme terhadap radiasi secara berurutan adalah sebagai berikut : spora bakterI > khamir > kapang > bakteri gram positif > bakteri gram negatif. Ternyata bakteri gram negatif merupakan yang paling peka terhadap radiasi. Oleh karena itu, untuk menekan proses pembusukan makanan dapat digunakan iradiasi dosis rendah (Jay, 1996).
Aspek Toksikologi, analisis kimia yang dilakukan terhadap makanan yang diawetkan dengan iradiasi tidak ditemukan senyawa yang berbahaya bagi kesehatan. Namun uji tersebut saja tidak cukup untuk meyakinkan keamanannya sehingga perlu dilakukan uji toksikologi. Uji toksikologi terhadap makanan iradiasi dilakukan dengan prosedur yang jauh lebih teliti dan kompleks bila dibandingkan dengan pengujian sebelumnya, karena sejak awal keamanan makanan iradiasi sangat banyak dipertanyakan. Kekhawatiran ini mungkin disebabkan adanya senyawa radioaktif pada makanan yang diiradiasi. Iradiasi pada suatu bahan pangan yang mengandung air menyebabkan ionisasi dari bagian molekul-molekul air dengan pembentukan hidrogen dan radikal hidroksil yang sangat reaktif. Radikal-radikal ini sangat berperan terhadap pengaruh biologis iradiasi pengion. Oleh karena itu terdapat pengaruh tidak langsung dari iradiasi jaringan-jaringan lembab yang disebabkan oleh air yang diaktivasikan. Hidrogen dan radikal hidroksil secara kimiawi dikenal sangat reaktif dan dapat bertindak sebagai zat pereduksi ataupun pengoksidasi. Kekhawatiran ini dapat terjawab melalui beberapa penelitian yang dilakukan dan tidak ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa makanan iradiasi berbahaya bagi kesehatan konsumen, sehingga berdasarkan hal tersebut, pada bulan Nopember 1980, para pakar dari FAO, WHO dan IAEA yang tergabung dalam Joint Expert Committee on Food Irradiation (JECFI) mengeluarkan rekomendasi yang menyatakan bahwa semua jenis bahan pangan yang diiradiasi sampai batas 10 Kgy adalah aman dikonsumsi.
Permasalahan lainnya, adanya ketakutan radioaktif. Iradiasi pangan adalah pangan yang telah sengaja diproses dengan beberapa jenis energi radiasi untuk membawa beberapa sifat yang diinginkan (misalnya, untuk menghambat tumbuh atau untuk menghancurkan bakteri-keracunan makanan). Selain bahan makanan, bahan lainnya yang komersial iradiasi selama manufaktur. Ini termasuk kosmetik, botol anggur gabus, perlengkapan rumah sakit dan produk medis, dan beberapa jenis kemasan makanan. Pangan Radioaktif, di sisi lain, adalah pangan yang telah disengaja dijadikan terkontaminasi oleh zat radioaktif dari uji coba senjata atau kecelakaan reaktor nuklir. Jenis kontaminasi sama sekali tidak terkait dengan pangan yang diradiasi yang telah diproses untuk pelestarian dan keperluan lainnya.
Hanya makanan kualitas higienis yang bak dan dapat diradiasi. Dalam hal ini, irradiasi tidak berbeda dari panas pasteurisasi, pembekuan, atau proses makanan lain. Meskipun proses ini dapat menghancurkan bakteri, mereka mungkin tidak dapat menghancurkan racun dan virus yang sudah dalam makanan. Hal ini sangat penting bahwa makanan ditujukan untuk pemrosesan metode yang berkualitas baik dan ditangani dan disiapkan sesuai dengan standar ditetapkan oleh badan nasional atau internasional berwenang. Dalam beberapa kasus, peraturan yang ketat melarang pembagian beberapa makanan.
Metode iradiasi lebih daripada metode lain dalam pengolahan makanan. kerugian gizi yang kecil dan sering jauh lebih kecil daripada kerugian yang terkait dengan lain metode pelestarian seperti pengalengan, pengeringan dan panas pasteurisasi. Banyak karya awal iradiasi diperiksa makanan dirawat di dosis sterilisasi, tapi karena sering menggunakan aplikasi terbaru dosis di bawah 10 kGy, yang realistis evaluasi kecukupan gizi makanan iradiasi harus didasarkan pada hasil percobaan yang diatur dosisnya. Perubahan nilai gizi yang disebabkan penyinaran tergantung pada sejumlah faktor. Ini termasuk dosis iradiasi yang makanan telah terbuka, jenis makanan, kemasan, dan kondisi pengolahan, seperti suhu selama waktu iradiasi dan penyimpanan. Karbohidrat, protein dan lemak merupakan komponen utama makanan. Macronutrients ini memberikan energi dan berfungsi sebagai blok bangunan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh. Riset ekstensif telah menunjukkan bahwa karbohidrat, protein, dan lemak, mengalami sedikit perubahan selama iradiasi bahkan pada dosis lebih dari 10 kGy. Demikian pula, asam amino esensial, mineral, trace elemen dan vitamin paling tidak menderita kerugian yang signifikan. Berbagai jenis vitamin ini mempunyai beragam kepekaan iradiasi dan untuk beberapa metode pengolahan makanan lainnya. sensitivitas dari vitamin untuk penyinaran tergantung pada kompleksitas sistem pangan dan kelarutan vitamin dalam air atau lemak. Iradiasi vitamin dalam larutan murni menghasilkan kehancuran yang cukup dari senyawa demikian beberapa laporan. Sebagai contoh, vitamin B1 (thiamin) di larutan air menunjukkan 50% setelah iradiasi kerugian sebesar 0,5 kGy, sedangkan iradiasi seluruh telur kering pada dosis yang menyebabkan kurang dari 5% kerusakan dari vitamin yang sama. Hal ini disebabkan tindakan saling melindungi konstituen berbagai makanan satu sama lain. Kerusakan Vitamin dapat diminimalkan dengan penyinaran makanan dalam bentuk beku atau kemasan dalam suasana seperti di bawah nitrogen. Empat vitamin diakui sebagai sangat sensitif untuk iradiasi: B1, C (asam askorbat), A (retinol) dan E (A-tokoferol). Namun, B1 bahkan lebih sensitif terhadap panas daripada iradiasi. Telah menunjukkan bahwa yang disterilisasi dengan penyinaran mempertahankan lebih banyak vitamin B1 daripada daging kaleng disterilkan termal.
3.4 Pengemasan
Bahan kemasan yang digunakan tidak harus diinduksi radiasi rilis-produk reaksi atau aditif pada makanan, atau harus lagi hilang kualitas fungsional seperti mekanika kekuatan, stabilitas segel, atau impermeabilitas terhadap air pada iradiasi. Hasil penelitian yang luas menunjukkan bahwa hampir semua bahan kemasan yang umum digunakan makanan yang diuji adalah cocok untuk digunakan pada dosis apapun mungkin diterapkan untuk makanan termasuk perawatan sterilisasi. Hanya bahan kemasan yang telah secara khusus disetujui untuk digunakan tersebut dapat dikenakan iradiasi makanan dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan telah disetujui untuk digunakan ketika makanan iradiasi. Kesesuaian mereka untuk makanan dimaksudkan untuk iradiasi telah dipelajari di berbagai negara. Jumlah bahan kemasan makanan telah disetujui untuk digunakan dalam iradiasi makanan oleh Amerika Serikat Food and Drug Administration (FDA) lebih dari 20 tahun yang lalu. Baru-baru ini, Kanada, India dan Polandia telah menyetujui tambahan bahan, termasuk film polietilen berlapis-lapis, sebagai aman untuk makanan kemasan yang akan diradiasi. tes canggih telah digunakan untuk mengevaluasi efek radiasi pada jenis plastik dan kemasan bahan. Peneliti memandang pasca iradiasi stabilitas, kekuatan mekanik, dan permeabilitas terhadap air dan gas dari bahan kemasan, dan pada extractability yang dari plastik, aditif, dan perekat.
Beberapa peraturan nasional mensyaratkan bahwa makanan iradiasi akan diberi label dengan pernyataan yang menunjukkan perlakuan dan, sering, dengan logo internasional dikenal sebagai simbol radura. Pengalaman dengan cobaan pasar dan penjualan komersial makanan iradiasi telah membuktikan bahwa konsumen informasi tidak terhadap makanan iradiasi tetapi memilih untuk diberi label seperti itu. Label memberikan konsumen kesempatan untuk memilih. Label laporan juga dapat digunakan untuk menyatakan mengapa produk iradiasi. Hal ini telah menunjukkan bahwa orang lebih mungkin untuk membeli makanan iradiasi diberi label dengan pernyataan menyampaikan manfaat positif dari teknologi, Misalnya, untuk mengendalikan microbes untuk menghambat spoilage.


3.5 Ekonomis Iradiasi Pangan
Setiap proses makanan akan menambah biaya. Dalam kebanyakan kasus, bagaimanapun, harga pangan tidak harus naik hanya karena produk telah ditangani. Banyak variabel yang mempengaruhi biaya makanan, dan satu dari mereka adalah biaya pengolahan. Pengalengan, pembekuan, pasteurisasi, pendinginan, pengasapan, dan iradiasi tambahkan biaya produk. Perawatan ini juga akan membawa manfaat kepada konsumen dalam hal ketersediaan dan kuantitas, penyimpanan kehidupan, kenyamanan, dan kebersihan baik dari makanan. Mengurangi kerugian yang akan membawa pendapatan produsen dan pedagang, sehingga pada gilirannya, kompensasi biaya pengobatan.
Faktor utama yang mempengaruhi ekonomi iradiasi makanan menggunakan kobalt-60 meliputi: desain iradiasi seperti parameter dosis yang diterapkan, densitas pengepakan produk, penanganan kondisi (produk kering versus tahan lama), dosis keseragaman dan throughput; biaya modal terdiri dari Iradiator, sumber radiasi, suku cadang untuk linear akselerator, kapasitas gudang, dan biaya operasi seperti gaji, utilitas, replenishments dari kobalt-60, pemeliharaan, dll Iradiasi biaya berkisar antara US $ 10 sampai $ 15 per ton untuk dosis rendah aplikasi (misalnya, untuk menghambat pertumbuhan kecambah dalam kentang dan bawang) menjadi US $ 100 sampai $ 250 per ton untuk aplikasi dosis tinggi (misalnya, untuk memastikan kualitas higienis rempah-rempah). Biaya tersebut kompetitif dengan pengobatan alternatif. Dalam beberapa kasus, iradiasi dapat menjadi jauh lebih murah. Untuk disinfestation buah untuk memenuhi persyaratan karantina dari pengimpor negara, misalnya, telah diperkirakan bahwa biaya iradiasi akan menjadi hanya 10% sampai 20% dari biaya uap-perlakuan panas.

3.6 Pendeteksian ikan terradiasi
Kebutuhan untuk tes yang handal dan rutin untuk menentukan apakah makanan telah diiradiasi muncul sebagai hasilnya dari kemajuan yang dibuat dalam komersialisasi makanan proses iradiasi, lebih besar internasional perdagangan makanan iradiasi, berbeda peraturan yang berkaitan dengan penggunaan teknologi di berbagai negara, dan permintaan konsumen
untuk label yang jelas dari perlakuan makanan. Meskipun tidak penting bagi pengelolaan proses, itu membayangkan bahwa ketersediaan seperti Tes akan membantu memperkuat peraturan nasional tentang iradiasi makanan tertentu, dan meningkatkan konsumen kepercayaan dalam peraturan tersebut. Ketersediaan diandalkan metode identifikasi akan bantuan dalam membangun sistem kontrol legislatif, dan membantu mencapai penerimaan makanan iradiasi oleh konsumen. Sejak pertengahan 1980-an penelitian yang luas telah menghasilkan pengembangan berbagai tes yang dapat digunakan untuk andal menentukan status iradiasi luas berbagai makanan. Metode yang telah dipelajari paling luas dan yang memiliki lingkup terbesar aplikasi termasuk resonansi spin elektron (ESR) spektroskopi, thermoluminesensi (TL), dan pemantauan pembentukan hidrokarbon rantai panjang dan 2-alkylcyclobutanones. Metode ini telah berhasil dievaluasi di beberapa percobaan buta antar laboratorium dengan hasil bahwa, pada tahun 1996, lima tes yang diadopsi sebagai referensi metode standar untuk mendeteksi iradiasi makanan oleh Komite Eropa untuk Normalisasi.
Ikan telah diteliti untuk mendeteksi perlakuan radiasi terhadapnya, menggunakan teknik thermoluminesensi (TL). Sampel diiradiasi dengan 60Co-sumber gamma pada dosis yang diserap dari 1, 2, 3, 4 dan 5 kGy. TL respon sampel diperlakukan pada suhu rentang 50-300°C, diukur dengan menggunakan pembaca TL dengan profil temperatur 10 °C/s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai TL meningkat sebanding dengan suhu dan sinyal maksimum diperoleh pada 195 ° C, dalam setiap kasus. Juga diamati bahwa intensitas TL meningkat dengan diserap dosis (1-5 kGy) dan peningkatan ini tergantung pada dosis serap. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa teknik TL adalah metode yang cepat, sederhana dan
menjanjikan untuk mengidentifikasi ikan yang telah diradiasi sinar gamma.
Sampel dari ikan dikumpulkan dari beberapa tempat pasar. Sampel dikemas dalam tas polietilen dan diiradiasi dengan tingkat dosis 1-5 kGy menggunakan sumber 60Co. Sampel dihancurkan secara mekanis dan dikeringkan dalam oven pada 50-60°C. sampel kering diambil sekitar 5-10 mg, memakai disk stainless steel dan respon TLnya diukur di kisaran suhu 50-300°C dengan cara Harshaw Model 2000C thermoluminesensi detektor digabungkan dengan 2000b integrator. Kondisi operasi instrumen ditetapkan :
T1 = 50 ° C, T2 = 300 ° C, tegangan = 500 190 = 690 V, waktu = 32 s, kecepatan pemanasan = 10 ° C/s, aliran N2 = 3-5 CFH (Pasokan kaki kubik/jam).
Pengaruh dosis terserap pada nilai-nilai TL di ikan diperoleh pada suhu yang berbeda disajikan dalam Gambar 2. Hal itu diamati nilai TL pada suhu masing-masing meningkat dengan meningkatkan dosis serap dalam produk. Maksimum TL nilai untuk setiap dosis diamati pada 195 ° C. Meskipun besarnya nilai berbeda antara sampel, pola perubahan yang serupa dalam setiap kasus.

Untuk melihat adanya regresi signifikan dari peningkatan nilai TL dengan dosis suhu dan diserap, koefisien korelasi, koefisien regresi dan persamaan regresi data diukur (Tabel 1) dan garis regresi untuk kedua jenis sampel ditarik (Gambar 4). Diamati bahwa nilai-nilai di TL setiap suhu meningkat dengan meningkatnya diserap dosis dalam sampel yang diuji. Dalam hal nilai TL ikan di 195°C adalah 47,03, 86,4, 182,43, 204,73, 243,93 dan 278,76 nC untuk kontrol dan iradiasi masing-masing pada 1, 2, 3, 4 dan 5 kGy. Uji statistik menunjukkan adanya regresi linier yang signifikan (P <0,01). Oleh karena itu diamati, bahwa dosis yang diserap meningkat nilai TL meningkat pada setiap saat sampai suhu 195 ° C. Pada nilai TL puncak (195 °C) untuk ikan hubungan itu diungkapkan oleh regresi linear signifikan.
Y = 47.236X + 55,774 pada 195 °C
dimana X adalah dosis radiasi diserap dalam kGy dan Y TL nilai dalam nC. Peningkatan TL ditemukan sangat berkorelasi positif dengan dosis serap di 195 °C dan sampel, seperti terlihat dari nilai R ikan R = 0,9603. Ditemukan lebih lanjut koefisien regresi yang pada waktu yang berbeda suhu secara signifikan berbeda satu sama lain, menunjukkan pengaruh yang luar biasa temperatur variasi pada nilai-nilai TL sampel.


Deteksi thermoluminesensi, Metode ini tidak hanya berlaku untuk identifikasi rempah-rempah, buah-buahan, sayuran dan lain-lain tapi makanan berdasarkan produk hewani seperti, daging ayam, tulang ayam, telur kerang, udang, juga telah diidentifikasi dengan metode ini. dari itu, disimpulkan dari penelitian ini bahwa TL pengukuran pada ikan dapat digunakan untuk identifikasi serta untuk prediksi dari dosis serap dalam sampel dan untuk tujuan standardisasi, studi tentang stabilitas TL yang memberi manfaat.

3.7 Manfaat
Pengurangan mikroorganisme patogen, Insiden penyakit bawaan makanan yang timbul dari konsumsi makanan terkontaminasi dengan mikroorganisme patogen meningkat, dan ada kesadaran tinggi di masyarakat kesehatan ancaman yang ditimbulkan oleh patogen dalam makanan. Di antaranya, E. coli, Salmonella, Campylobacter jejuni, Listeria monocytogenes, dan Vibrio merupakan perhatian utama dari sudut pandang kesehatan masyarakat karena keparahan penyakit dan jumlah wabah yang lebih tinggi dan kasus-kasus individu yang terkait dengan penyakit bawaan patogen makanan ini.
Bakteri ini meracuni makanan, Salmonella dan C. jejuni biasanya berhubungan dengan ikan, dan olahan ikan dan makanan lainnya yang mempunyai kebertahanan di bawah pendinginan. Vibrio sp. Dapat menyebabkan pandemi kolera agen di dunia dan banyak wabah penyakit yang disebabkan oleh konsumsi ikan mentah. Kepatuhan terhadap praktek manufaktur yang baik adalah jelas penting tapi ini saja mungkin tidak cukup untuk mengurangi jumlah wabah keracunan makanan. Patogen seperti yang telah disebutkan sebelumnya sensitif terhadap radiasi pengion tingkat rendah.
Bila dosis iradiasi lebih meningkat mikroorganisme akan terpengaruh tetapi dosis yang lebih tinggi, tidak menciptakan produk-produk yang berbahaya, sekaligus dapat memperkenalkan perubahan kualitas pangan, maka dari itu keseimbangan harus diperoleh antara dosis optimum yang dibutuhkan untuk kebutuhan yang wajar. Ikan segar, diradiasi sampai dosis 2,5 kGy hampir akan menghilangkan Salmonella dan Campylobacter di bawah kondisi produksi yang tepat. Dosis yang sama menghancurkan E. coli O157: H7, bakteri yang sangat berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit dan kematian, dan yang diperkirakan 20.000 menyebabkan infeksi dan 250 kematian di Amerika Serikat setiap tahun. metode radiasi saat ini hanya diketahui menonaktifkan patogen dalam makanan mentah dan beku. Seafood, terutama kerang, sering terkontaminasi dengan organisme patogen seperti Salmonella, Vibrio parahaemolyticus, dan Shigella. Proses pemasakan yang tidak cukup matang dapat menimbulkan resiko yang berbahaya. Perpanjangan massa konsumsi ikan dan makanan laut bisa sangat lama oleh pengawetan dengan kombinasi iradiasi dosis rendah dan pendinginan yang tidak mengubah rasa atau tekstur.



BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Pengawetan pangan adalah salah satu cara memperpanjang kebermanfaatan suatu produk. Dalam hal ini pengawetan ikan. Ikan memiliki banyak sekali zat gizi yang lebih baik dibandingkan sumber zat gizi lain seperti daging, telur dan sebagainya. Dalam keberjalanannya, radiasi pangan menempuh jalan berliku hingga dapat diterima di masyarakat dunia. Berbagai prosedur dan standardisasi harus diterapkan demi keamanan dan keselamatan. Metode pengujian terhadap ikan yang telah diradiasi telah ditemukan beberapa cara, pengujian ini akan menghasilkan sejauh mana radiasi akan memberi efek pada tubuh.
Pangan yang telah diradiasi, wajib hukumnya untuk dikemas dan diberi label khusus, hal ini penting agar konsumen dapat memilih produk mana yang ia inginkan dari pasar. Biaya yang besar untuk meradiasi juaga menjadi pertimbangan dalam ekonomi, produk ini harganya lebih mahal dibandingkan produk biasa. Karena produk radiasi lebih unggul dalam kebertahanan dan telah diminimalisasi kontaminannya, sehingga aman dikonsumsi dibanding produk biasa.

4.2 Saran
Perlu adanya riset lebih lanjut untuk mengembangkan metode pengawetan ikan ini di Indonesia. Melihat Negara ini yang dua per tiganya lautan, sangat potensial sekali untuk mengembangkan teknologi agar produk perikanannya dapat bersaing di tataran global.
Masyarakat harus mendapat edukasi yang benar tentang radiasi ini. Tidak ada yang perlu ditakuti. Selama ada standard operating prosedure yang jelas dan diawasi oleh pihak yang berwenang dan ahli dalam bidangnya.
Perlu adanya kerja sama yang kooperatif dengan negara maju yang telah lebih dahulu menggunakan dan terbiasa dengan teknologi nuklir ini. Sehingga memberi manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat, khususnya yang berkecimpung dalam bidang perikanan.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Md.K., Hasan, M., Alam, Md.J., Ahsan, N., Islam, Md.M., dan Akter, M.S., 2009. Effect of Gamma Radiation in Combination with Low Temperature Refrigeneration on the Chemical, Microbiologycal and Organoleptic Changes in Pampus chinesis. World Journal of Zoology, Vol. 4, No. 1 Hal. 9–13.

Atta, S. , A. Sattar,1 A. Ahmad,I. Ali,S. A. Nagra, dan T. Ahmad. 2001. Suitability of thermoluminescence for the detection of irradiated chicken and fish. Journal of Radioanalytical and Nuclear Chemistry, Vol. 250, No. 3 Hal. 537–54.

Loaharanu, P., dan Ahmed M., 2000. Advantages and Disadvantages of the Use of Irradiation for Food Preservation. Journal of Agricultural and Environmental Ethics, Hal 14-30.

Mojica, E.E., Nato, Jr.A.Q., Ambas, M.E.T., Feliciano, C.P., Francisco, M.L.D.L., dan Deocaris, C.C., 2005. Application of Irradiation as pretreatment Method in the Production of Fermented Fish Paste. Journal of Applied Sciences Research, Vol. 1 No. 1 Hal. 90–94.

Rao, S.M., 1996. Isotopes and radiation Technology. Journal of Radioanalytical and nuclear Chemistry. Vol. 205 No.1 Hal. 35-44.

Stefanova, R., Vasilev, N.V., Spassov, S.L., 2010. Irradiation Food Legislation Framework and Detection of Irrated Foods. Food Anal. Methods, Vol. 3, Hal. 225–252.

______. Facts about food irradiation. 1999. International Consultative Group on Food Irradiation (ICGFI), Vienna, Austria.

Kamis, 10 Februari 2011

Lomba Esai KENMI

Intinya latar belakang energy syalalalalalala gt,… males ngetik yg ngemeng2

Persyaratan :
1. Mahasiswa S1 seluruh Indonesia
2. Naskah berbentuk esai
3. Orisinil pandangan mahasiswa berupa opini, bukan pemaparan data dan angka yang formatif
4. Belum dan tidak diikutkan lomba lain dan belum pernah dipublikasikan
5. Ditulis dgn bahasa Indonesia yang baik dan benar

Tema yang dipilih
1. Haruskah pemerintah Indonesia melakukan pembatasan subsidi energy?
Bagaimana mekanisme yang tepat dan jelas untuk pembatasan subsidi energy siapkah kita (masyarakat, spbu, usaha kecil) bila pembatasan di mulai bulan maret.
Apa dampak positif dan negative pembatasan subsidi energy?
Apakah pmbatasan subsisdi ini kan membuat perekonomian Indonesia lebih baik?
Mungkinkah pembatasan subsidi tidak dilakukan? Adakah solusi lainnya?
Bgmana pndapat anda dgn setuju nya IMF dgn diadakannya pngurangan subsidi energy?

2. Indonesia tidak hanya memiliki minyak sebagai sumber energy. Sudah sejauhmana pngembangan energy terbarukan d Indonesia?
Apa saja sumber energy alternative yang terbarukan dan berkelanjutan d Indonesia. Jelaskan keuntungannya
Langkah apa yang harus diambil untuk mencari sumber alternative tersebut
Knpa kita tidak boleh bergantung sepenuhnya pada energy fosil
Bgmana kondisi sumber energy Negara saat ini, apa masih memungkinkan memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia
Apa pemerinta sudah peduli dengan pngembangan energy alternative ini?
Sbg mahasiswa, apa yg harus dilakukan untuk menyadarkan pemerintah akan energy alternative tersebut?

Kriteria Penilaian :
1. Kesinambungan argument dengan subtema yang dipilih peserta
2. Rasionalitas ide, inovasi dan originalitas
3. Sistematika penulisan dan pemikiran
4. Tata bahasa dan kerapihan tulisan

Format :
1. EYD sesuai ketentuan akademik ilmiah
2. Nama dan identitas penulis diletakkan di lembar terpisah. Yang memuat nama, no identitas, telp, alamat tmpat tinggal, univ n jurusn nya
3. Font Calibri 12 spasi 1,5 kertas A4 kiri 4 sisanya 3 cm
4. Kurang lebih 1500 kata
5. Kirim format word (doc or docx) atau pdf melalui email : kenmiitb2011@yahoo.com sbg attachment dan akan dikonfirmasi oleh panitia bila telah sampai
6. Terakhir diterima 28 Feb 2011

Hadiah :
Pengumuman 8 maret 2011
Juara I 3 juta, II 1,5 juta, III 1 juta. Sertifikat dan tiket gratis seminar n konferensi KENMI
Akan dimuat dalam media cetak. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat

Rabu, 08 Desember 2010

Analisis pengenceran Isotop

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
Kimia inti atau yang dikenal dengan sebutan kimia nuklir merupakan salah satu bidang kajian dalam ilmu kimia yang bahasan utamanya menyangkut sifat-sifat suatu nukleotida, struktur, energetika, isotop, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan inti suatu atom. Pemanfaatan ilmu ini telah merambah ke berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, industri dan riset kebumian, energi, pangan dan pertanian, ilmu fisika dan kimia, kelautan dan hidrologi, dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan pemanfaatan ilmu nuklir tersebut, para ahli peneliti banyak melakukan penemuan isotop-isotop yang berguna aplikasinya dalam banyak bidang kehidupan. Oleh sebab itu diperlukan metode atau teknik yang handal guna menentukan kadar suatu isotop dalam sampel. Teknik ini dinamakan teknik analisis pengenceran isotop.
Analisis pengenceran isotop merupakan teknik untuk menentukan kadar suatu zat dalam sampel dengan cara pengenceran dan penambahan zat radioaktif atau isotopnya. Analisis ini berdasarkan pada suatu komponen yang telah diketahui aktivitas jenisnya. Penentuan kuantitatif senyawa dalam campuran yang rumit dapat dilaksanakan dengan menambahkan senyawa bertanda dengan keaktifan jenis dan jumlah yang diketahui dengan teliti. Untuk maksud ini harus digunakan senyawa bertanda dengan sifat yang identik dengan senyawa yang akan ditentukan. Bila senyawa yang akan ditentukan dapat dipisahkan dalam keadaan murni, tetapi tidak perlu diperoleh hasil pemisahan yang kuantitatif, maka kadar senyawa yang dimaksud dapat ditentukan dengan membandingkan keaktifan jenis sebelum dan sesudah pemisahan.
Oleh karena itu, perlu adanya ulasan khusus mengenai analisis pengenceran isotop. Hal ini perlu dilakukan agar kadar suatu zat dalam sampel dapat diketahui dengan mudah serta aplikasinya tidak membahayakan bagi peneliti, pengguna, maupun penggelut di bidang kimia nuklir.

1.1.2 Rumusan Masalah
Sehubungan dengan itu, maka rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana metoda dan proses penentuan kadar suatu zat dengan menggunakan analisis pengenceran isotop sehingga keuntungannya dan kegunaannya dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan?.

1.2 Ruang Lingkup Kajian
Untuk menjawab rumusan masalah di atas, akan dikaji hal-hal berikut:
1. Radiokimia.
2. Isotop.
3. Analisis dalam radiokimia.
4. Pengenceran isotop.
5. Analisis pengenceran isotop yang meliputi definisi, metoda, proses, kegunaan, aplikasi, keuntungan, dan cara penentuan kadar suatu sampel.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui analisis pengenceran isotop yang menyangkut definisi, metoda, proses, kegunaan, aplikasi, keuntungan, dan cara penentuan kadar dengan menggunakan analisis pengenceran isotop.

1.4 Anggapan Dasar
Menurut Prof. Mr. Ag. Pringgodigdo, anggota IKAPI Yogyakarta, dan Hadyana Pudjaatmaka, analisis pengenceran isotop merupakan teknik untuk menentukan kadar suatu zat dalam sampel dengan cara pengenceran dan penambahan zat radioaktif atau isotopnya.

1.5 Hipotesis
Hipotesis yang dapat diajukan dalam makalah “analisis pengenceran isotop” ini adalah teknik pengenceran isotop ini banyak digunakan untuk keperluan di berbagai bidang, seperti bidang hidrologi, kesehatan dan nutrisi, geologi, nuklir, dan material, biokimia, serta kimia analitik lingkungan. Hal ini dikarenakan metoda dan prosesnya sangat mudah. Dilihat dari keuntungan dan kegunaannya, maka analisis pengenceran isotop ini banyak diaplikasikan dalam bidang-bidang tersebut.

1.6 Metoda dan Teknik Pengumpulan Data
1.6.1 Metoda
Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis karena penelitian ini bertujuan mendeskripsikan data yang diperoleh dari berbagai rujukan kemudian dianalisis secara berkesinambungan. Jadi, penelitian ini menerapkan metode pendekatan empiris dan rasional.

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah :
1. Studi kepustakaan.
2. Metode penentuan informan.

1.7 Sistematika Penulisan
Makalah ini dibagi menjadi empat bab. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang dan rumusan masalah, ruang lingkup kajian, tujuan penulisan, anggapan dasar, hipotesis, metode dan teknik pengumpulan data, serta berisi tentang sistematika penulisan. Pada bab II, diungkapkan tentang tinjauan pustaka yang berisi radiokimia, isotop, analisis dalam radiokimia, dan pengenceran isotop. Bab III merupakan bab analisis pengenceran isotop yang membahas definisi, metoda, proses, kegunaan, aplikasi, keuntungan, dan cara penentuan kadar dengan menggunakan analisis pengenceran isotop. Makalah akan diakhiri pada bab IV dengan penarikan sebuah kesimpulan atas permasalahan yang diangkat dan saran dari permasalahan tersebut.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Radiokimia
Radiokimia adalah cabang dari ilmu kimia yang mempelajari tentang gejala keradioaktifan yang ditimbulkan oleh atom yang memancarkan partikel atau sinar berenergi tinggi dari intinya baik secara spontan maupun buatan. Fenomena keradioaktifan ini pertama kali diamati oleh Henry Becquerel pada tahun 1896. Tipe emisi radioaktif ini ada tiga, yaitu emisi , , dan .
Dalam proses emisi , yang digunakan adalah inti helium. Penggunaan ini dipilih karena sistem ikat yang ketat dan energi kinetik yang dihasilkan dalam emisi ini maksimum.
Contohnya : 88Ra138  86Rn136 + 
Karakteristik dari peluruhan  ini memiliki waktu paruh 1600 tahun dan energi kinetik 4.8 MeV.
Pada proses peluruhan  peluruhan dapat terjadi melalui tiga jalan, yaitu:
n  p + e- ( peluruhan -)
p  n + e+ ( peluruhan +)
p + e-  n ( penangkapan elektron)
Proses pertama disebut peluruhan  negatif atau peluruhan negatron yang melibatkan emisi elektron biasa. Elektron dipancarkan dari inti, terutama oleh inti yang kaya neutron. Emisinya disertai dengan pemancaran antineutrino. Proses kedua, peluruhan  positif atau peluruhan positron yang diemisikan elektron bermuatan positif. e+ dipancarkan dari inti atom, terutama inti yang kaya proton. Emisinya disertai dengan pemancaran neutrino. Dalam proses ketiga atom elektron mengalami gangguan dekat inti sehingga tertelan dan menghasilkan konversi proton menjadi neutron. Modus pengurangan nomor atom Z namun besarnya nomor massa A dipertahankan. Modus ini berkompetisi dengan pemancaran positron. Modus ini disukai jika energi peluruhan < 2mc2.
Emisi radioaktif  analog seperti radiasi transisi X-ray. Waktu paruh biasanya relatif singkat. Partikel ini tidak bermuatan, dan merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik yang energinya lebih tinggi daripada daerah sinar-X. besarnya energi 0,1 – 10 MeV, rata-rata > 5 MeV. Radiasi terjadi bersama-sama dengan emisi alfa dan beta ketika atom kembali dari keadaan transisi ke keadaan dasar.
Partikel yang terlibat dalam reaksi radiokimia ini terdiri dari proton, neutron, elektron, positron. Ciri dari reaksi radiokimia berbeda dengan reaksi kimia biasa yaitu unsur dikonversikan menjadi unsur lain; proton, elektron, neutron dan partikel dasar lain dapat saja terlibat, reaksi diiringi dengan penyerapan atau pelepasan energi yang sangat besar, laju reaksi biasanya tidak dipengaruhi oleh suhu, katalis dan tekanan.

2.2 Isotop
Isotop adalah bentuk dari unsur yang nukleusnya memiliki nomor atom yang sama - jumlah proton di nukleus, tetapi dengan massa atom yang berbeda karena mereka memiliki jumlah neutron yang berbeda. Kata isotop, berarti di tempat yang sama, berasal dari fakta bahwa seluruh isotop dari sebuah unsur terletak di tempat yang sama dalam tabel periodik. Secara bersama, isotop-isotop dari unsur-unsur membentuk suatu set nuklida. Sebuah nuklida adalah satu jenis tertentu nukleus atom, atau lebih umum sebuah gabungan proton dan neutron. Lebih tepat lagi untuk mengatakan bahwa sebuah unsur seperti fluorine terdiri dari satu nuklida stabil dan bukan dia memiliki satu isotop stabil. Dalam nomenklatur ilmiah, isotop (nuklida) dispesifikasikan berdasarkan nama unsur tertentu dan jumlah nukleon (proton dan neutron) dalam nukleus atom (misal, helium-3, karbon-12, karbon-14, besi-57, uranium-238). Dalam bentuk simbolik, jumlah nukleon ditandakan sebagai sebuah prefik naik-ke-atas terhadap simbol kimia (misal, 3He, 12C, 14C, 57Fe, 238U).
Berdasarkan aktivitasnya, isotop terbagi dua yaitu isotop stabil dan isotop radioaktif. Dalam penyimpanannya, isotop stabil biasanya diberi identitas kotak berwarna abu sebagai penanda bahwa isotop itu stabil. Label itu harus memuat informasi lambang atom, nomor massa, persen kelimpahan, dan massa isotpnya. Isotop radioaktif, selain alami ditemukan di alam, ternyata juga bisa didapatkam melalui buatan.

2.3 Perunut
Pengunaan radioisotop sebagai perunut didasarkan pada ikatan bahwa isotop radioaktif mempunyai sifat kimia yang sama dengan isotop stabil. Jadi suatu isotop radioaktif melangsungkan reaksi kimia, yang sama seperti isotop stabilnya. Sebagai perunut, radoisotop ditambahkan ke dalam suatu sistem untuk mempelajari sistem itu, baik sistem fisika, kimia maupun sistem biologi. Oleh karena radioisotop mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya, maka radioisotop dapat digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga perpindahan perubahan senyawa itu dapat dipantau.
Teknik perunut ini dapat diaplikasikan apabila dalam kondisi dimana ada suatu aliran populasi masa. Selain itu agar teknik perunut ini dapat secara sempurna diaplikasikan maka perlu dipenuhi beberapa persyaratan lain, misalnya bahwa bahan perunut yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat dan berkelakuan sama dengan bahan dari populasi masa yang diselidiki namun mempunyai identitas khusus dimana bahan perunut tersebut harus dapat dideteksi dengan suatu alat deteksi.
Perunutan merupakan suatu proses pemanfaatan senyawa yang telah ditandai dengan isotop atau radioisotop untuk menjadi bagian dari sistem biologi/mekanik sehingga diketahui mekanisme yang terjadi atau diperoleh suatu hasil pengukuran. Teknik perunut dapat menggunakan isotop atau radioisotop.
Dasar aplikasi dari teknik perunut dengan isotop stabil adalah sifat kimia spesifik dari unsur yang digunakan dengan berat molekul yang berbeda. Contoh isotop stabil adalah N-15, Cr-52, C-13, dan lainnya. Alat yang digunakan untuk mengukur isotop stabil seperti mass atomic spektrofotometer , X-ray flourescene (XRF), dan Neutron Atomic Absorbtion (NAA). Sedangkan dasar aplikasi dari teknik perunut dengan radioisotop adalah paparan aktivitas dari masing-masing unsur yang digunakan. Contoh radioisotop adalah C-14, Ca-45, P-32, H-3, dan lainnya. Alat yang dapat digunakan untuk mengukur aktivitas paparannya adalah Liquid Scintilation Counter (LSC), Gamma Counter , HPGe, dan lainnya. Dalam aplikasinya, radioisotop dapat dijadikan perunut yang memberi manfaat pada bidang kedokteran, industri, hidrologi, dan bidang lainnya.

2.4 Analisis Dalam Radiokimia
Analisis pengenceran isotop digunakan untuk menentukan kadar suatu zat dengan cara menambahkan zat radioaktif yang telah diketahui aktivitas jenisnya dan sudah diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan kadarnya. Senyawa yang digunakan memiliki sifat yang identik dengan senyawa yang akan dianalisis. Pada analisis pengenceran isotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui jumlahnya dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut di pisahkan, lalu keradioaktifannya ditentukan. Dalam tataran analisis, analisis pengenceran Isotop adalah teknik untuk meningkatkan presisi dan akurasi dari analisis kimia.

2.5 Pengenceran Isotop
Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan menambahkan isotopnya. Pengenceran isotop digunakan untuk mengurangi cacat radiasi dan analisis yang memanfaatkan perubahan rasio isotop. Untuk mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop ke dalam tubuh, konsentrasinya diencerkan dengan menyerap isotop stabil dan dikeluarkan dari tubuh. Misal, bila iodium radioaktif diserap ke dalam tubuh maka setelah 24 jam sekitar 20% jumlahnya akan masuk ke dalam tiroid dan sisanya setelah terdistribusi ke seluruh tubuh segera dikeluarkan melalui urin. Bila sebelumnya telah menggunakan iodium stabil maka konsentrasi iodium di dalam tiroid menjadi lebih tinggi dan waktu paro biologisnya menjadi lebih pendek.




























BAB III
ANALISIS PENGENCERAN ISOTOP

3.1 Analisis Pengenceran Isotop
Analisis pengenceran isotop untuk menentukan kadar suatu zat dilakukan dengan cara menambahkan zat radioaktif yang telah diketahui aktivitas jenisnya dan sudah diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan kadarnya. Senyawa yang digunakan memiliki sifat yang identik dengan senyawa yang akan dianalisis.
Pada analisis pengenceran isotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui jumlahnya dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut di pisahkan, lalu keradioaktifannya ditentukan.
Dalam tataran analisis, analisis pengenceran Isotop adalah teknik untuk meningkatkan presisi dan akurasi dari analisis kimia. Pertama, jumlah yang diketahui dari suatu isotop ditambahkan ke sampel. Misalnya, untuk menentukan jumlah timbal dalam sampel, diketahui jumlah Pb-204, salah satu isotop timbal, dapat ditambahkan. Kelimpahan isotop alami dari timah adalah 204 (1,8%), 206 (22,1%), 207 (24,2%), dan 208 (52,1%). Komposisi isotop sampel akan sedikit berubah. Kemudian, dengan mengukur isotop masing-masing, jumlah timbal dalam sampel asli dapat dihitung. Dalam khas kromatografi gas analisis, pengenceran isotop dapat mengurangi kesalahan injeksi dari 5% menjadi 1%. Hal ini juga dapat digunakan dalam spektrometri massa (biasanya disebut sebagai pengenceran isotop spektrometri massa atau IDMS), di mana rasio isotop dapat ditentukan dengan presisi biasanya lebih baik dari 0,25%. Sebuah bentuk yang sedikit berbeda dari pengenceran isotop dapat digunakan untuk menentukan komposisi radioaktif sampel. Misalnya dengan menambah jumlah isotop radioaktif dalam sampel dan kemudian perubahan radioaktivitasnya diukur sehingga jumlah isotop dalam sampel asli dapat dihitung.

3.2 Metoda Analisis Pengenceran Isotop
Analisis Uranium dan Thorium dalam Limbah radioaktif dari proses daur bahan bakar nuklir dapat dilakukan dengan pengkajian metode analisis uranium dan thorium dalam limbah radioaktif dari proses daur bahan bakar nuklir. Metode analisis uranium dan thorium dalam pengkajian ini terdiri dari metode Titrimetri, Spektrofotometri UV-VIS, Fluorimetri, HPLC, polarografi, Spektrografi Emisi, XRF, AAS, Spektrometri Alfa, dan Spektrometri Massa. Dari pengkajian ini dapat disimpulkan bahwa untuk analisis uranium dan thorium untuk konsentrasi rendah menggunakan metode Spektrofotometri UV-VIS lebih baik daripada metode Titrimetri. Sedang untuk analisis uranium dan thorium dengan konsentrasi sangat rendah sampai ppb (10-9 bagian) dapat digunakan dengan metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN), Spektrometri Alfa, dan Spektrometri Massa. Metode Spektrometri Alfa dan ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) untuk analisis kandungan isotop uranium dan thorium sangat baik bila dilihat dari aspek ketelitian maupun ketepatan analisis. Perbandingan metode ICP-MS dan Spektrometri Alfa menunjukkan bahwa kedua metode tersebut mempunyai kemampuan untuk menentukan isotop uraranium dan thorium dalam cuplikan limbah dengan hasil yang sangat bagus, tetapi metode ICP-MS memerlukan waktu analisis lebih cepat dan biayanya lebih murah. Metode AAN juga dapat digunakan untuk analisis isotop uranium and thorium, tetapi metode ini memerlukan fasilitas reaktor dan waktu analisis sangat lama. Pada metode titrimetri dan gravimetri ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar analisis dapat dilakukan yaitu :
Metoda Titrimetri :
• Reaksi harus berlangsung sempurna, cepat, dan reversibel
• Menggunakan indikator yang tepat
• Larutan baku harus stabil
Metoda Gravimetri :
• Proses pengendapan harus berlangsung sempurna
• Endapan yang terbentuk tidak larut
3.2.1 Metoda Spektrometri Massa
Analisis isotop dengan metode Spektrometri Massa secara kualitatif didasarkan pada pengukuran massa yang karakteristik untuk setiap isotop. Sedang secara kuantitatif ditentukan berdasarkan pada besarnya intensitas untuk setiap massa yang berbanding lurus dengan konsentrasi isotop suatu unsur. Metoda ini adalah metoda analisis multi unsur dalam suatu bahan dalam tingkat kelumit (tingkat konsentrasi ppb atau kurang). Pada metoda ini, jenis instrumen yang digunakan umumnya adalah Spektrometer Massa Termal Ionisasi, dimana proses atomisasi dan ionisasi atom-atom dengan pemanasan pada suhu tinggi (1500-2000 oC). Prosedur yang umum dilakukan adalah (1). Pelarutan dan pengenceran sampel, (2). Pemisahan kimia (pemisahan U dari unsur-unsur lain dengan penukar ion atau ekstraksi pelarut). Adanya unsur alkali konsentrasi tinggi juga perlu dipisahkan terutama kalium yang dapat membentuk K6 yang akan mengganggu pengukuran 234U dan 236U, (3). Penambahan standar spike bila digunakan teknik pengenceran isotop, (4). Penetesan sampel pada filamen dan pengeringan, selanjutnya sampel siap dianalisis. Spektrometri massa telah dikembangkan dengan teknik atomisasi atau ionisasi yang dilakukan dengan Inductively Coupled Plasma (ICP) sehingga metode ini disebut Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (ICP-MS). Umumnya metode ICP-MS digunakan untuk penentuan isotop suatu unsur dalam sampel larutan. Walaupun demikian, ICP-MS dapat juga digunakan untuk menganalisis sampel padatan. Untuk penentuan U dan Th (juga Pu) dalam limbah radioaktif dipilih sampel dalam bentuk larutan. Metode ICP-MS tidak menggunakan filamen sehingga lebih murah dari pada metode Spektrometri Massa Termal Ionisasi.

3.2.2 Metoda Spektrometri Alfa
Metode ini pada umumnya menggunakan teknik penyiapan cuplikan yaitu dengan “elektrodeposisi” pada stainless steel yang siap diukur (dicacah) dengan Spektrometer Alfa. Beberapa penelitian pada umumnya berbeda dalam preparasi cuplikan terutama pada cara pemisahan sebelum dilakukan elektrodeposisi. Pemisahan U atau Th dari unsur-unsur lain dapat dilakukan dengan : pengendapan, ekstraksi pelarut, ekstraksi kromatografi, pertukaran ion, dan adsorpsi. Spektometri Alfa telah berhasil digunakan untuk analisis Th dalam bijih bastnaessite. Mula-mula sampel dilakukan pelarutan, kemudian diekstraksi dengan Tri-octhyl-phosphin oxide (TOPO), dilanjutkan pertukaran ion menggunakan resin Dowex 1-X8 untuk memisahkan Ce. Unsur pengganggu dalam analisis ini adalah Ba, Sr, dan Si. Metode ini juga telah berhasil untuk analisis Th dalam batubara dan abu batubara. Sampel dilarutkan dengan HCl dan HF, kemudian diekstraksi dengan eter dan dilanjutkan dengan kromatografi penukar anion. Unsur pengganggu dalam analisis ini adalah U dan Pb. Terhadap ketiga sampel tersebut, metode ini mampu menganalisis Th konsentrasi rendah (0,01- 1%) dengan RSD = 1,3-12% dan kesalahan relatif 5,28- 5,95%. Analisis isotop U dan Th juga Pu telah banyak dilakukan dengan ICP-MS maupun dengan Spektrometri Alfa, baik untuk sampel dari hasil proses fabrikasi bahan bakar dan limbah radioaktif yang ditimbulkan, maupun sampel lingkungan dengan hasil yang memuaskan. Analisis isotop U dan Th dengan metode AAN relatif sama dengan kedua metode tersebut. Kemampuan metode ICP-MS dan Spektrometri Alfa untuk analisis U dan Th (juga Pu) dapat dilihat pada table di bawah ini. Perbandingan metode ICP-MS dan Spektrometri Alfa (Tabel di bawah) menunjukan bahwa kedua metode tersebut mempunyai kemampuan untuk menentuan kandungan isotop U dan Th juga Pu dalam sampel limbah dengan ketelitian, ketepatan dan batas deteksi yang relatif sama baik.
Untuk tingkat konsentrasi yang sama, waktu preparasi sampel juga relatif sama (15 jam dan 15,5 jam), tetapi waktu analisis untuk metode ICP-MS dapat dilakukan lebih cepat (hanya 5 menit/sampel) dibanding denganSpektrometri Alfa (48-72 jam /sampel atau 2-3 hari/sampel). Selain itu biaya analisis ICP-MS lebih murah. Oleh karena itu dalam hal ini metode ICP-MS lebih banyak dipilih.
Tabel I. Perbandingan metode analisis ACR-MS dan Spektrofotometri Alfa

3.3 Proses Analisis Pengenceran Isotop
Proses analisis pengenceran isotop secara umum adalah :



Analisis campuran senyawa berdasarkan jenis cuplikan, yaitu dengan suatu komponen yang telah diketahui aktivitas jenisnya; penentuan kuantitatif senyawa dalam campuran yang rumit dapat dilaksanakan dengan menambahkan senyawa bertanda dengan keaktifan jenis dan jumlah yang diketahui dengan teliti; untuk maksud ini harus digunakan senyawa bertanda dengan sifat yang identik dengan senyawa yang akan ditentukan; bila senyawa yang akan ditentukan dapat dipisahkan dalam keadaan murni, tetapi tidak perlu diperoleh hasil pemisahan yang kuantitatif, maka kadar senyawa yang dimaksud dapat ditentukan dengan membandingkan keaktifan jenis sebelum dan sesudah pemisahan.
Kebalikan dari cara ini sering dinamakan kebalikan pengenceran isotop, merupakan penambahan isotop mantap ke dalam isomer radioaktif yang akan ditentukan kadarnya.

3.4 Kegunaan Analisis Pengenceran Isotop
Secara umum kegunaan analisis pengenceran isotop adalah untuk mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop ke dalam tubuh dan anlisis yang memanfaatkan perubahan radioisotop dalam berbagai bidang aplikasi seperti bidang hidrologi, kesehatan, geologi, biokimia dan kimia analisis yang akan dijelaskan lebih lanjut.

3.5 Aplikasi Analisis Pengenceran isotop
Aplikasi analisi pengenceran isotop awalnya dilakukan oleh ahli biokimia untuk menganalisis campuran kompleks dari senyawa organik. Hal ini dilakukan untuk memastikan stabilitas senyawa berlabel dan ketahanan untuk pertukaran isotopik reaksi. Nitrogen-15-label glisin misalnya, dapat digunakan untuk menentukan glisin dalam campuran asam amino yang diperoleh dari protein. Deuterium-glisin label tidak dapat digunakan jika isotop deuterium yang melekat pada atau amino glisin memiliki gugus karboaksil, karena di lokasi deuterium diketahui mengalami reaksi pertukaran dengan hidrogen pada pelarut atau dalam asam amino lainnya.. Deuterium sangat berguna dalam analisis isotop unsur di mana total hidrogen atau konsentrasi hidrogen tukar yang diinginkan juga.
Aplikasi teknik pengenceran isotop juga telah ditemukan di geologi, ilmu nuklir, dan ilmu material. Aplikasi ini umumnya berfokus pada sensitivitas yang sangat tinggi yang dapat dicapai dengan teknik ini . Isotop argon, uranium, timah, thorium, strontium, dan rubidium telah digunakan dalam penentuan umur geologi mineral dan meteorit. Untuk meminimalkan kesalahan dalam pengukuran sensitivitas, analisis pengenceran isotop uranium telah dilakukan ke dalam 4 bagian 10 12 dan pada torium untuk 8 bagian dalam 10 9. . Pada studi di geologi dan ilmu nuklir pengenceran isotop dilakukan untuk menentuan jumlah jejak radiogenik produk. Jika hidup dan pembusukan skema setengah dari orang tua nuklida diketahui, maka cairan penentuan isotopik dan putri isotop orang tua memberikan dasar untuk perhitungan usia sampel. Jika usia atau sejarah sampel diketahui, maka penentuan konsentrasi jejak isotop memberikan informasi tentang jalur reaksi nuklir. Aplikasi pengenceran isotop dalam berbagai bidang diantaranya:

3.5.1 Bidang Hidrologi
Dalam bidang hidrologi, banyak dijumpai masalah menyangkut dinamika air dimana teknik perunut dengan radioisotop sangat sering berperan dalam memberikan informasi tentang masalah yang menyangkut dinamikanya dan mengungkapkan anomali yang terjadi. Masalah utama dalam bidang hidrologi yang sering dijumpai adalah sebagai berikut :
3.5.1.1 Pengukuran Debit Air Sungai
Metode dasar dalam pengukuran debit air sungai adalah pengenceran radiotracer. Radiotracer dalam jumlah tertentu yang tidak membahayakan lingkungan dilepas dibagian hulu sungai dan kemudian diukur konsentrasinya di bagian hilir. Besarnya perubahan kadar perunut karena pengenceran oleh aliran (debit) air sungai dapat diketahui dengan cara mencacah langsung intensitas radiasi dalam air sungai tersebut. Penggunaan radiotracer untuk mengukur debit air sungai terbukti lebih sederhana dibandingkan metode pengukuan menggunakan current meter, selain itu pengukuran juga dapat dilakukan lebih cepat dan dapat dilakukan pada saat banjir sekalipun. Pengukuran debit air sungai antara 300-600 m3 per detik hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, hal ini membuktikan bahwa penggunaan radiotracer jauh lebih efektif, efisien dan ekonomis. Semakin turbulen arus air sungai, semakin cepat dan baik hasil pengukurannya.

Gambar 1. Aplikasi radioisotope dalam pengukuran debit air sungai

3.5.1.2 Kebocoran dan Rembesan
Masalah yang sering timbul pada suatu reservoir air, misalnya bendungan, waduk dan lain-lain adalah adanya kekhawatiran kebocoran yang melebihi toleransi yang keluar dari suatu reservoir. Untuk mengetahui apakah bocoran itu berasal dari air waduk ataukah sumber lain (misalnya dari air tanah), teknik perunut radioisotop dapat membantu memberikan jawaban yang pasti dan lebih lanjut dapat memberikan informasi dimana lokasi daerah bocorannya.
Radioisotop yang digunakan sebagai perunut harus memiliki persyaratan tertentu, antara lain : tidak berbahaya bagi manusia atau makhluk hidup disekelilingnya, aktivitasnya rendah, waktu paruhnya pendek, larut dalam air, tidak diserap oleh tanah dan oleh tumbuhan.
Radioisotop dilepaskan pada tempat tertentu di reservoir yang diperkirakan sebagai tempat terjadinya rembesan/bocoran pada dam/bendungan. Apabila terjadi kebocoran pada bendungan tersebut maka radioisotope akan masuk mengikuti arah bocoran. Dengan mengikuti air yang keluar dari mata air, sumur-sumur pengamat yang terdapat di daerah downstream, maka akan dapat diketahui adanya bocoran/rembesan dan arah dari rembesan dam tersebut.

Gambar 2. Teknik perunut radioisotop dapat digunakan untuk menentukan letak kebocoran atau rembesan suatu bendungan atau dam.
3.5.1.3 Penentuan Umur Air Tanah
Teknik hidrologi yang menggunakan radioisotop mampu secara akurat melacak dan mengukur ketersediaan air dari suatu sumber air di bawah tanah. Teknik tersebut memungkinkan untuk melakukan analisis, pengelolaan dan pelestarian sumber air yang ada dan pencarian sumber air baru. Teknik ini dapat memberikan informasi mengenai asal, usia dan distribusi, hubungan antara air tanah, air permukaan dan sistem pengisiannya. Radioisotope yang digunakan untuk menentukan umur air tanah ialah isotop tritium dan C-14.
3.5.1.4 Pengukuran Kadar Air Tanah
Banyak alat-alat konvensional yang dirancang khusus untuk mengukur kadar air, namun jarang ada alat yang dapat melakukan pengukuran dengan teliti dan cepat, dapat dilakukan di tempat, tidak merusak dan alatnya dapat dibawa-bawa (portable). Salah satu metode yang dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut adalah dengan menggunakan neutron. Penggunaan neutron telah banyak dimanfaatkan oleh para ahli di bidang teknik sipil, agronomi dan hidrologi untuk pengukuran kadar air dalam tanah serta kepadatan tanah, aspal dan beton. Data-data hasil pengukuran tersebut kemudian akan digunakan untuk merancang pondasi bangunan, jalan raya, pembuatan tanggul dan lain sebagainya. Sedang dalam bidang industri dan laboratorium, neutron dapat digunakan untuk pengukuran berbagai hasil akhir dan penelitian.

Gambar 3. Teknik pengukuran kadar air tanah dengan teknik hamburan neutron (sumber: BATAN)
Karena sederhana, alat pengukur kadar air dengan neutron ini diminati oleh berbagai pihak. Di dalam alat ini terdapat suatu sumber neutron cepat. Proses kerja alat ini adalah dengan memanfaatkan hasil tumbukan antara neutron cepat dengan atom hidrogen yang terdapat di dalam molekul air. Peristiwa tumbukan ini akan menghasilkan neutron-neutron termik. Jumlah neutron termik yang terbentuk akan ditangkap oleh pemantau neutron. Dimana hasil cacahan neutron yang terbaca akan sebanding dengan jumlah air yang terkandung di dalam bahan.
3.5.1.5 Penentuan Gerakan Sedimen
Proses pendangkalan pelabuhan merupakan proses alamiah yang tidak dapat dicegah. Jika pelabuhan dangkal, kapal-kapal besar tidak akan dapat merapat ke dermaga, sehingga proses bongkar muat barang dapat terganggu. Sedangkan proses pengerukan endapan memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu, pendangkalan pada suatu pelabuhan dan alur pelayaran merupakan masalah yang sangat serius karena menyangkut kelangsungan pelayanan perhubungan laut. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk memperkecil kecepatan pendangkalan pelabuhan maupun alur pelayaran oleh sedimen adalah dengan mengetahui perilaku sedimen, yaitu menentukan dari mana asal dan kemana arah gerakan sedimen tersebut. Data mengenai arah pergerakan sedimen dapat digunakan untuk perencanaan penentuan posisi dan arah alur pelayaran serta menentukan tempat untuk pembuangan endapan hasil pengerukan agar tidak kembali ke tempat semula. Semua usaha ini akan dapat mengurangi laju pendangkalan sehingga frekwensi pengerukan bisa dikurangi dan biaya untuk pengerukan bisa dihemat.
Teknik pelaksanaan penentuan arah gerakan sedimen dilakukan dengan menandai sedimen yang diambil di pelabuhan dengan radioisotop seperti 51Cr, 198Au dan 46Sc atau membuat endapan tiruan yang bersifat radioaktif seperti pelapisan lumpur dengan zat radioaktif atau pasir tiruan yang diaktifkan (pasir ini dibuat dari gelas yang mengandung radioisotop 192Ir dan 46Sc). Sedimen radioaktif tersebut selanjutnya dilepaskan ke dasar laut di daerah yang diselidiki. Endapan radioaktif ini nantinya akan mengikuti gerak endapan asli. Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari arah, kecepatan dan penyebaran lumpur ataupun pasir yang berperan dalam proses pendangkalan pelabuhan. Pengamatan tersebut dapat dilakukan menggunakan pemantau radiasi dari permukaan laut atau di atas kapal. Selain itu, studi ini juga dapat dipakai untuk mengetahui efisiensi transpot sedimen dan erosi.

Gambar 4. Mempelajari arah gerak sedimen dengan perunut radioisotop (sumber: IAEA)

3.5.2 Bidang Kesehatan dan Nutrisi
Aplikasi pengenceran radioisotope pada bidang kesehatan dan nutrisi adalah mempelajari maltrunisi mikronutrien seperti besi, seng, dan vitamin A.
Prinsip metoda pengenceran isotop untuk mengetahui status vitamin A adalah mengkonversi karoten bertanda menjadi vitamin A yang dapat dirunut dengan karoten Karbon-13. Teknik ini dapat digunakan untuk mengukur efektivitas vitamin A, penyediaan karoten, dan petunjuk fortifikasi dalam mempelajari nutrisi.

3.5.3 Bidang Biokimia
Aplikasi pengenceran radioisotope di bidang biokimia diantaranya adalah :
 Mempelajari pengaruh unsur hara selain unsur N, P, dan K terhadap perkembangan tumbuhan.
 Mempelajari proses penyerapan air dan sirkulasi dalam batang tumbuhan.
 Penentuan glisin dalam campuran asam amino yang diperoleh dari protein.
 Mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis berupa C-14 atau O-18 yang dapat mengetahui asal atom oksigen (dalam CO2 dan H2O yang membentuk glukosa atau oksigen yang terbentuk pada proses ini.
 Memacu mutasi gen tumbuhan dalam upaya mendapatkan bibit unggul.
 Isotop radioaktif seperti 3H, 14C, 32P, 35S, 86Rb, 125I dapat digunakan untuk mengetahui aspek metabolik dalam sel, bakteri, yeast, tanaman, binatang, dan manusia dalam mengurai sifat dasar pada materi genetik.

3.5.4 Bidang Geologi, Nuklir dan Material
• Analisis Uranium dan Thorium dalam Limbah radioaktif dari proses daur bahan bakar nuklir.
• Penentuan umur geologi mineral dan meteorit dengan isotop argon, uranium, timah, thorium, stronsium, dan rubidium.
• Jalur reaksi nuklir dari penentuan konsentrasi isotop.
• Pada pertambangan minyak bumi, radioisotope membantu mencari jejak air di dalam lapisan batuan.

3.5.5 Bidang Kimia Analitik dan Lingkungan
Analisis logam
• Penentuan logam beracun dalam sampel lingkungan menggunakan timah, kadmium, dan thalium
Analisis non logam
• Penentuan limbah klorida dan bromida pada salju


3.6 Keuntungan Analisis Pengenceran Isotop
Berikut adalah keuntungan yang dimiliki dalam analisis pengenceran isotop :
 Penggunaan luas (dari analisa unsur sampai molekul besar)
 Sangat selektif
 Dapat menganalisis zat yang tidak stabil atau zat yang sebagian dapat terurai selama proses pemisahan berlangsung
 Pemisahan tidak perlu kuantitatif
 Menghasilkan kepekaan yang tinggi
 Meningkatkan presisi dan akurasi

3.7 Penentuan Kadar dengan Analisis Pengenceran Isotop
Soal 1:
Contoh dari aplikasi analisis pengenceran isotop adalah penentuan kadar fosfor dalam sampel. Sebagai perunut digunakan radioisotop 32PO43-. 25 gram sampel yang belum diketahui konsentrasinya dan mengandung ion 32PO43- dilarutkan dengan air hingga volume 100 ml. Kemudian larutan ini ditambahkan 1 gram radioisotop 32PO43- dengan keaktifan jenis 1 Ci/gram. Setelah terjadi proses pengendapan dengan penambahan reagen pengendap, diambil sedikit atau sebagian endapan murni dan ditimbang seberat 5 gram. Pengukuran aktivitas pada endapan ini memberikan nilai sebesar 0.5 Ci. Hitunglah kadar fosfor dalam sampel.

Jawab:
S2=0.5 Ci/5 gram=0.1 Ci/gram
Wx=Ws (S1/S2 – 1)=1 gram (1/0.1 -1)=9 gram
Jadi berat fosfat dalam sampel adalah 9 gram. Dengan hubungan stoikiometri dapat diperoleh berat fosfor sebesar 2.94 gram. Maka kadar fosfor dalam sampel adalah 2.94/25 x 100% = 11.76%


Soal 2:
Ke dalam 50mL larutan yang mengandung ion 62Zn2+ yang belum diketahui konsentrasinya ditambahkan 10 mL larutan 62Zn2+ 0,100 µ Ci. Kemudian diencerkan sampai volume 100 ml. Setelah pengendapan garam seng diperoleh 0,4000 gram seng dengan keaktifan 0,0825 µ Ci. Hitunglah konsetrasi ion 62Zn2+ dalam larutan semula.

Jawab:
% Zn yang diperoleh = 0,0825/0,100 X 100 = 82,5 %
Jumlah seng = (0,4000 g seng yang diperoleh)/(0,825 (gram yang diperoleh)/(gram total)) = 0,485 g

Dengan mengabaikan berat 62Zn2+ yang ditambahkan maka konsentrasi 62Zn2+ dalam larutan semula adalah:
0,485/(65,37 X 0,05) = 0,1484 M














BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan menambahkan isotopnya. Isotop adalah bentuk dari unsur yang nukleusnya memiliki nomor atom yang sama - jumlah proton di nukleus, tetapi dengan massa atom yang berbeda karena mereka memiliki jumlah neutron yang berbeda. Analisis pengenceran isotop untuk menentukan kadar suatu zat dilakukan dengan cara menambahkan zat radioaktif yang telah diketahui aktivitas jenisnya dan sudah diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan kadarnya. Kemudian zat tersebut dipisahkan, lalu keradioaktifannya ditentukan. Dalam pengenceran analisis isotop ini senyawa yang digunakan memiliki sifat yang identik dengan senyawa yang akan dianalisis.
Metoda yang dapat dapat digunakan untuk analisis pengenceran isotop ini diantaranya adalah metode Titrimetri, Spektrofotometri UV-VIS, Fluorimetri, HPLC, polarografi, Spektrografi Emisi, XRF, AAS, Spektrometri Alfa, dan Spektrometri Massa. Metode-metode ini digunakan untuk mengetahui kereaktifan suatu senyawa analisis yang telah mengalami pengenceran isotop. Secara umum kegunaan analisis pengenceran isotop adalah untuk mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop ke dalam tubuh dan anlisis yang memanfaatkan perubahan radioisotop dalam berbagai bidang. Alkisa analisis pengenceran isotop ini diantaranya di bidang hidrologi untuk menentukan kecepatan aliran dan kebocoran, di bidang kesehatan untuk mempelajari malnutrisi, bidang geologi untuk menentukan umur bebatuan, di bidang biokimia dan kimia analisis. Keuntungan dari penggunaan analisis pengenceran isotop ini yaitu penggunaannya yang luas (dari analisa unsur sampai molekul besar), sangat selektif, dapat menganalisis zat yang tidak stabil atau zat yang sebagian dapat terurai selama proses pemisahan berlangsung, pemisahan yang dilakukan tidak perlu kuantitatif dan menghasilkan kepekaan yang tinggi sehingga meningkatkan presisi dan akurasi.

4.2 Saran
Analisis pengenceran isotop merupakan suatu metode analisis yang memanfaatkan isotop suatu unsur. Metode analisis ini sangat baik digunakan karena memiliki banyak keuntungan diantaranya dapat meningkatkan presisi dan akurasi karena menghasilkan kepekaan yang tinggi dibandingkan dengan metode lain.
Untuk analisis uranium dan thorium untuk konsentrasi rendah menggunakan metode Spektrofotometri UV-VIS lebih baik daripada metode Titrimetri. Sedang untuk analisis uranium dan thorium dengan konsentrasi sangat rendah sampai ppb (10-9 bagian) dapat digunakan dengan metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN), Spektrometri Alfa, dan Spektrometri Massa. Metode Spektrometri Alfa dan ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) untuk analisis kandungan isotop uranium dan thorium sangat baik bila dilihat dari aspek ketelitian maupun ketepatan analisis.












DAFTAR PUSTAKA

Gunandjar. 1992. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengolahan Limbah VI. Jakarta: Puspiptek-RISTEK. ISSN 1140-6086.
http://informasi-iptek.blogspot.com/2007/12/nuklir-indonesia.html (diakses pada 25 Oktober 2010 pukul 10:27)
http://m4n5y4hsyahril31.blogspot.com/2010/05/radioisotop-dalam-bidang-kimia.html (27 Oktober 2010, 20.09)
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Isotopic_dilution ($ Desember 2010, 22.54)
http://www.infonuklir.com/readmore/read/iptek_nuklir/teknik_nuklir_dibidang_sdal/16ethe-1/Radioisotop%20untuk%20hidrologi (diakses 4 Desember 2010. 23.05)
Tang Y.S., Sailing J.H., 1990, Radioactive Waste Management, Hemisphire Publishing Corp.,Washington, D.C.

Jam Sekarang Coy